Peningkatan Pertanian Sebagai Solusi Problem Pangan

Aleks Bria*)

Negara Indonesia dikenal sebagai Negara agraris karena berlimpahnya kekayaan sumber daya alam. Indonesia terletak di garis khatulistiwa dan merupakan salah satu negara yang berada di wilayah tropis. Seperti data yang dikaji oleh akademisi pada Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air, Kementerian Pertanian, pada tahun 2015 menunjukkan bahwa total luas daratan Indonesia adalah sebesar ± 192 juta ha, yang terbagi atas 123 juta ha (64,6 %) kawasan budidaya dan 67 juta ha (35,4 % ) kawasan lindung. Dari total luas kawasan budidaya, yang berpotensi untuk sektor pertanian adalah 101 juta ha. Terdiri dari lahan basah seluas 25,6 juta ha. Hingga saat ini, areal yang sudah dimanfaatkan untuk kegiatan usaha tani sebesar 47 juta ha, sehingga masih tersisa 54 juta ha yang berpotensi untuk memperluas areal pertanian.

Dari data potensi wilayah tersebut, sebagian besar masyarakat Indonesia bermata pencaharian sebagai petani. Namun dalam perkembangan waktu, masyarakat Indonesia yang berprofesi sebagai petani, dari tahun ke tahun mengalami penurunan. Banyak masyarakat petani yang beralih ke profesi lain. Entah kenapa harus terjadi demikian. Seperti data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada bulan Februari Tahun 2016, mencatat 31,74 % angkatan kerja di Indonesia atau 38,29 juta bekerja di sektor pertanian.

Kebutuhan pangan menjadi salah satu unsur penting dalam kehidupan manusia. Siapa saja yang hidup di muka bumi ini pasti membutuhkan pangan demi melangsungkan kehidupannya. Akan tetapi, di negara yang kita diami ini masih saja ada yang kekurangan pangan. Kemiskinan, kelaparan, gizi buruk, dan busung lapar menjadi fenomena yang biasa terjadi di negeri ini. Sumber daya alam yang berkelimpahan, nyatanya tidak seluruhnya menjamin kesejahteraan hidup manusia.

Apabila dilihat dari potensi-potensi yang ada, semestinya Indonesia sangat mampu untuk memenuhi kebutuhan pangan bangsa Indonesia sendiri dan bahkan juga mampu mengekspor. Namun mengapa masih saja terjadi krisis pangan? Di manakah letak persoalan yang dihadapi oleh para petani?

Berikut ini akan diuraikan beberapa hal sebagai strategi penyadaran kembali atas usaha-usaha yang telah dilakukan selama ini demi meningkatkan hasil produksi pangan.

Problematika Dalam Bidang Pertanian

Betul bahwa daerah kita sangat berpotensi untuk meningkatkan hasil pertanian, tetapi dalam proses pelaksanaan di lapangan, masih terdapat banyak petani yang mengalami berbagai persoalan dalam proses usaha tani sehingga berdampak pada menurunya hasil produktivitas pertanian.

Biaya Usaha Tani

Dalam menjalankan suatu usaha tentunya membutuhkan modal usaha untuk mengadakan benih, pupuk dan sarana prasarana lainnya. Sering kali kita mendengar keluhan dari petani mengenai modal usaha yang terbatas sehingga usaha tani yang dijalankan tidak efektif. Sebagian besar petani masih mengalami keterbatasan modal usaha untuk mengadakan benih, pupuk dan teknologi pertanian modern. Terkadang mereka juga bingung untuk mendapatkan modal usaha. Lembaga-lembaga keuangan seperti koperasi, BANK dll terkadang tidak ingin meminjamkan modal usaha kepada petani yang belum memiliki status usaha tani yang jelas.

Akhirnya sebagian besar petani tidak bisa memperoleh modal usaha. Sebagian besar petani sudah menyadari pentingnya teknologi dalam meningkatkan hasil produksi, tetapi kendalanya adalah modal. Dampak dari semua itu adalah hasil produktivitas pertanian menjadi menurun karena banyak petani yang tidak memanfaatkan lahannya secara efektif dengan alasan kekurangan modal usaha.

Sistem Usaha Tani yang masih Terbelakang

Pada umumnya, sebagian masyarakat petani belum mampu memproduksi pangan secara berlimpah sebagai jaminan untuk memenuhi kebutuhan akan pangan itu sendiri, papan dan sandang. Kebanyakan produksi pangan secukupnya hanya untuk memenuhi kebutuhan makan-minum dalam keluarga. Sebagai akibatnya, sangat sulit untuk memenuhi kebutuhan akan sandang, papan, kebutuhan biaya pendidikan dan kesehatan keluarga. Secara umum, tujuan utama pertanian atau usaha tani yang diterapkan sebagian petani di Indonesia adalah untuk memenuhi kebutuhan keluarga (pola subsistence). Hal ini berarti belum sepenuhnya bertujuan untuk dijual ke pasar (market oriented) seperti halnya usaha tani di negara-negara maju. Model hidup bertani seperti di atas mesti dibenah dari waktu ke waktu, demi meningkatkan pendapatan para petani melalui hasil pertanian sehingga dapat didistribusi untuk memenuhi kebutuhan lainnya.

Kerusakan Sumber Daya Alam
Boleh dikatakan bahwa dalam era modern ini, diakui adanya peralatan teknologi yang makin maju tetapi tak dapat disangkal pula bahwa kenyataan sumber daya alam justeru makin dirusakkan. Misalnya penebangan hutan secara liar, penggunaan bahan kimia berlebihan, sampah anorganik dibuang sembarangan dan lain sebagainya. Perilaku seperti ini bertendensi menghambat humus tanah yang berdampak pula pada menurunnya hasil produksi.

Perubahan musim sebagai dampak dari pemanasan global turut mempengaruhi aktivitas pertanian. Misalnya di pulau Timor, berubahnya musim merupakan akibat dari aktivitas tak bertanggung jawab dari segelintir orang. Fakta menunjukkan bahwa masih begitu banyak areal pertanian mati pada saat musim kering. Pemicu utamanya adalah hutan sebagai tempat penyerapan air hujan sudah tidak berfungsi secara efektif. Penebangan hutan dilakukan secara liar, hutan-hutan banyak terbakar akibatnya tidak tersedia cadangan air yang cukup untuk pengairan lahan saat musim kering tiba. Dengan demikian krisis pangan dapat saja terjadi terus-menerus.

Rendahnya Penerapan Teknologi Budidaya

Sumber daya manusia petani merupakan salah satu penentu dalam keberhasilan usaha tani. Banyak petani belum mampu menerapkan teknologi pertanian yang tepat guna. Hal ini disebabkan karena kurangnya pelaksanaan pendidikan non formal melalui penyuluhan kepada para petani. Kebanyakan para petani masih bertani secara konvensional sehingga hasil usaha tani yang diperoleh pun tidak maksimal. Penggunaan pupuk yang tidak tepat, bibit unggul dan cara pemeliharaan yang belum optimal diterapkan oleh petani karena lemahnya sosialisasi teknologi, sistem pembinaan serta lemahnya modal usaha petani itu sendiri.

Cara budidaya petani yang masih konvensional akibatnya kecenderungan  untuk menggunakan pupuk kimia terus menerus dilakukan, tidak menggunakan pergiliran tanaman, kehilangan pasca panen masih tinggi 15 – 20 % dan pemakaian air irigasi pun tidak efektif. Fenomen ini menunjuk pada rendahnya produktivitas yang mengancam kelangsungan usaha tani dan daya saing pasar. Rendahnya produktivitas  dan daya saing komoditi tanaman pangan turut menyebabkan menurunnya minat petani untuk mengembangkan usaha budidaya pangan entah dalam skala lokal maupun nasional.

Alih Fungsi Lahan Pertanian
Alih fungsi lahan berarti lahan pertanian yang pada mulanya sangat produktif untuk usaha pertanian dimanfaatkan untuk pembangunan lainnya, seperti perhotelan, perumahan, pertokoan dll. Kini terlihat jelas bahwa pembangunan infrastruktur telah memanfaatkan lahan-lahan produktif yang sangat cocok untuk areal pertanian. Penggusuran lahan masih saja terjadi di beberapa daerah yang berdampak pada petani kehilangan lahan produktif. Pengembangan lahan pertanian pangan baru tidak seimbang dengan konversi lahan pertanian produktif yang berubah menjadi fungsi lain.  Seperti data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik pada Tahun 2000 bahwa, lahan sebesar 10.794.221 hektar telah menyumbangkan produksi padi  sebesar  48.201.136 ton dan 50 %-nya lebih disumbangkan dari pulau Jawa. Namun karena mengingat meningkatnya penduduk di pulau Jawa sehingga keberadaan lahan tanaman pangan mengalami degradasi. Alih fungsi lahan ini berdampak pula pada menurunnya hasil produksi pangan entah secara regional maupun nasional. Praktek ini perlu disikapi secara serius dan bijak demi meningkatkan produktivitas secara  nyata dengan membuka areal pertanian baru untuk meningkatkan produksi pangan entah regional maupun nasional.

Kurang Optimalnya Peranan Koperasi Yang aAda Di Pedesaan

Tentunya kita tahu bersama bahwa lahan pertanian yang masih luas dan produktif berada di pedesaan. Karena itu, untuk memberdayakan para petani di desa demi efektifitasnya usaha tani, maka perlu ditingkatan peranan koperasi di tingkat desa. Koperasi Unit Desa berperan menyediakan modal usaha kepada para petani dan mengumpulkan hasil usaha para petani untuk didistribusikan ke pasar. Namun sejauh pengamatan saya, koperasi di tingkat desa, peranannya belum dijalankan secara optimal. Kenyataan ini turut mempengaruhi menurunnya semangat para petani untuk bekerja karena kurangnya modal usaha tani dan sulitnya pemasaran hasil bertani.

Kurangnya Motivasi dari para Petani

Para petani sering mengalami penurunan motivasi dalam bekerja. Hal ini terkadang disebabkan oleh gagalnya hasil produksi, menurunnya nilai jual komoditi yang dibudidayakan dan kondisi cuaca yang tidak menentu. Para petani terkadang beralih profesi karena rendahnya nilai jual hasil usaha tani. Kondisi seperti ini menuntut mereka untuk memilih jenis pekerjaan lain walaupun pendapatannya pun apa adanya. Misalnya menjadi buruh, pembantu dan pada akhirnya ada yang merantau.

Fenomen ini menandaskan suatu hal mendasar yakni pentingnya motivasi tentang hidup bertani dan terhadap para petani. Motivasi yang kuat didukung dengan dukungan produktif dari luar merupakan strategi kesiapan mental yang mengantar seorang petani untuk berjuang terus menerus dari waktu ke waktu. Seperti yang kita ketahui bahwa sebagian besar petani pada umumnya belum berani berusaha dengan menanggung resiko. Akibatnya adalah fasilitas permodalan yang disediakan kadang-kadang tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Ketidakberanian petani dalam menanggung resiko adalah karena mereka belum dapat menafsirkan atau memperkirakan sejauh mana keberhasilan usahanya kelak dengan resiko yang ditanggung. Hal ini kemudian berimbas pada keserigan gagal panen yang  berakibat pada krisis pangan.

Strategi Peningkatan Pertanian

Salah satu upaya yang harus dilakukan agar masyarakat kita tidak mengalami krisis pangan yakni meningkatkan hasil produksi pangan. Upaya untuk meningkatkan produksi pangan memang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Akan tetapi dari berbagai faktor tersebut, ada beberapa faktor yang sangat bergantung pada upaya yang dilakukan oleh sumber daya manusia petani. Diantaranya persiapan lahan, penerapan tata cara budidaya yang benar, cara panen yang tepat dan pengolahan pasca panen yang baik. Kebanyakan petani masih melakukan aktivitas pertanian mulai dari pengolahan hingga pemanenan dilakukan secara konvensional. Berikut ini beberapa usaha untuk meningkatkan hasil pertanian.

Intensifikasi Pertanian

Kebanyakan petani belum memahami tentang intensifikasi lahan. Intensifikasi pertanian adalah pengolahan lahan pertanian yang ada dengan sebaik-baiknya untuk meningkatkan hasil pertanian dengan menggunakan berbagai sarana. Pada awalnya intensifikasi pertanian ditempuh dengan program  panca usaha tani, meliputi kegiatan sebagai berikut : pengolahan tanah yang baik, pengairan/irigasi yang teratur, pemilihan bibit unggul, pemupukan dan pemberantasan hama dan penyakit tanaman. Apabila intensifikasi lahan dilakukan oleh masyarakat petani, maka krisis pangan bisa teratasi. Karena itu, sebagai seorang petani mestinya perlu melakukan intensifikasi terhadap lahan yang selalu diolah sehingga hasil yang diperoleh bisa makasimal guna memenuhi kebutuhan pangan dalam keluarga dan jika kelebihan bisa dijual kepada masyarakat lainnya.

Ekstensifikasi Pertanian

Sebagian besar masyarakat petani di wilayah kita masih memiliki lahan yang luas dan belum dapat dimanfaatkan dengan baik. Hal ini disebabkan karena kurangnya tenaga kerja dalam rumah tangga untuk membantu pengolah lahan yang tersedia dan tidak tersedianya teknologi pertanian. Ekstensifikasi pertanian berarti usaha untuk meningkatkan produksi hasil pertanian dengan cara memperluas lahan pertanian baru, terutama lahan tidur yang selama ini belum diolah. Namun terkait ekstensifikasi lahan pertanian, para petani sering mengeluh mengenai tenaga kerja dan ketersediaan teknologi pertanian. Kebanyakan keluarga petani yang fokus untuk bekerja adalah suami, sehingga lahan yang dikerjakan pun sesuai dengan tenaga petani tersebut. Belum lagi ditambah dengan disiplin kerja petani, dalam artian bahwa pemanfaat waktu dalam bekerja. Jadi kalau misalnya waktu tidak dimanfaatkan dengan baik oleh petani maka tentu lahan yang dimiliki tidak semuanya mampu diolah oleh petani yang bersangkutan. Selain itu, kekurangan tenaga kerja petani dalam keluarga menyebabkan lahan tidur tidak mampu diolah. Hal ini tentu berdampak pada tidak cukupnya ketersedian pangan dalam keluarga. Oleh karena itu, masyarakat petani yang masih memiliki lahan yang luas dan belum diolah harus dimanfaatkan dengan baik atau disewa pada orang yang tidak memiliki lahan.

Diversifikasi Pertanian

Salah satu upaya yang harus dilakukan oleh petani untuk mengatasi kekurangan pangan yakni diversifikasi pertanian. Artinya bahwa perlu adanya penganekaragaman jenis usaha atau tanaman pertanian untuk menghindari ketergantungan pada salah satu hasil pertanian. Diversifikasi pertanian dapat dilakukan dengan memperbanyak jenis kegiatan pertanian, misalnya seorang petani selain bertani juga beternak ayam atau beternak ikan. Selain itu juga bisa memperbanyak jenis tanaman pada suatu lahan, contohnya pada suatu lahan selain ditanam jagung juga ditanam padi ladang, pisang, ubi dll.

Hal ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam keluarga. Dari berbagai keanekaragaman tanaman yang dimiliki dan berbagai usaha pertanian maka petani bersama keluarganya bisa tetap memenuhi kebutuhan di dalam keluarga. Selebihnya bisa dijual untuk kebutuhan lain.

Mekanisasi Pertanian

Sejauh ini, masyarakat petani belum semuanya memanfaatkan mesin-mesin pertanian dalam pengolahan lahan. Kebanyakan masih bertani secara konvensional sehingga hasil yang diperoleh pun tidak maksimal. Karena itu, salah upaya yang mesti dilakukan untuk meningkatkan hasil pertanian yakni memanfaatkan mesin-mesin pertanian modern untuk membantu tenaga kerja petani. Misalnya, tanah diolah menggunakan traktor, penyiraman dilakukan dengan motor air atau irigasi tetes. Mekanisasi pertanian, tentu sangat membantu tenaga manusia, karena pengolahan lahan dan proses budidaya sudah menggunakan mesin sehingga hasil produksi juga tentu meningkat.

Rehabilitasi Pertanian

Salah satu dampak rusaknya struktur tanah beserta unsur hara di dalam tanah yakni penggunaan pupuk kimia yang berlebihan. Hal ini menyebabkan lahan yang produktif lama-kelamaan menjadi tidak produktif. Karena itu, perlu ada upaya perbaikan atau rehabilitasi lahan yang tidak produktif dengan mengolah tanah menggunakan bahan-bahan organik untuk meningkatkan atau mengembalikan unsur hara di dalam tanah. Selain itu juga kurangi penggunaan bahan kimia seperti pupuk, pestisida yang berlebihan. Selain itu juga dapat dilakukan dengan cara mengganti tanaman yang sudah tidak produktif menjadi tanaman yang lebih produktif.

Solusi dan Resolusi

Persoalan dalam bidang pertanian yang berdampak pada krisis pangan harus diselesaikan dengan melibatkan berbagi oknum. Tidak saja pemerintah, tetapi perlu dilakukan pendekatan secara persuasif dengan para petani sehingga para petani beserta keluarganya tahu dan mau untuk bekerja dengan penuh tanggungjawab demi meningkatkan hasil pertanian. Solusi yang ditawarkan oleh kami yakni para petani harus membuka diri dan mau untuk mengadopsi inovasi sesuai dengan perkembangan zaman. Misalnya penggunaan pupuk, benih, pestisida dan teknologi pertanian tepat guna. Apabila para petani menerapkan sistem bertani yang benar maka hasil pertanian juga akan melimpah. Pada akhirnya kita tidak mengalami krisis pangan.

Selain itu pemerintah juga perlu memperhatikan kebutuhan-kebutuhan petani misalnya kebutuhan akan benih, pupuk dan fasilitas pertanian yang bisa membantu para petani dalam kegiatan usaha tani. Pendidikan non formal untuk para petani sangat dibutuhkan dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para petani seiring dengan perkembangan zaman sehingga para petani tidak ketinggalan strategi dalam kemajuan zaman. Para petani juga harus mulai dan mau untuk menerapkan prinsip kerja keras, cerdas, tuntas, ikhlas dan memanfaatkan teknologi pertanian dengan tepat guna.

Krisis pangan hanya bisa teratasi dengan meningkatkan hasil pertanian. Meningkatkan hasil pertanian tentunya membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak. Terutama untuk pemerintah sebagai pengendali kebijakan, harus betul-betul memberikan perhatian yang serius kepada petani. Selain itu juga para petani harus berusaha untuk bangkit dari prolematika kemiskinan. Hasil dari pertanian yang maksimal akan sangat membantu para petani dalam memenuhi kebutuhan dalam keluarga. Misalnya kebutuhan pangan, sandang dan papan. Selebihnya bisa dijual untuk memenuhi kebutuhan biaya pendidikan anak-anak, kesehatan dalam keluarga dan diinvestasikan untuk masa depan keluarga.

Dengan demikian melalui hidup bertani, kita bisa mengatasi kemiskinan material yang selama ini dialami oleh masyarakat. Hidup bertani bukan merupakan sebuah profesi yang berat untuk dilakukan. Hidup bertani yang baik hanya membutuhkan kemauan. Kemauan adalah kuci dari segala keberhasilan dan kesuksesan.

Sumber Bacaan :
Anonim . 2014. Ini Cara Pemerintah Atasi Kekurangan Pangan di Indonesia. Jakarta, GATRAnews .https://www.gatra.com/nusantara-1/nasional-1/117055-ini-cara-pemerintah-atasi-kekurangan-pangan-di-indonesia%E2%80%8F.html

Anonim. 2010. Penyebab Krisis Pangan Indonesia.

Anonim. 2012. Potensi Sektor Pertanian. Gempitanews.Com, Makassar http://gempitanews.com/detailpost/potensi-sektor-pertanian-di-indonesia

Anonim. Potensi Sumber Daya Alam Indonesia di Bidang Pertanian. https://www.dakwatuna.com/2017/01/30/85275/maksimalisasi-potensi-sektor-pertanian-meningkatkan-produksi-pangan-indonesia/#axzz4vuXJrW34
Badan Pusat Statistik. 2000. Data Statistik Pertanian Di Indonesia.

Anonim. 2012. Keberhasilan usaha peningkatan produksi pertanian . Berdesa.Com http://www.berdesa.com/usaha-meningkatkan-hasil-pertanian/

 

*)guru, terlibat dalam aktifitas pengorganisasian petani sejak mahasiswa

Please follow and like us:

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

13 − 3 =