Decotourism, Membangun Pariwisata Berbasis Pertanian

Di hari kedelapan bulan Januari yang lalu, saya berkesempatan melipir ke Detusoko. Kampung halaman kawan saya yang subur, indah dan selalu bikin adem. Pokoknya kalau pernah dengar lagunya Om-om Koes Plus nah kontekstual banget tuh sama Desa ini.

“Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat, kayu dan batu jadi tanaman” #Ahai….

Dua orang teman yang saya maksudkan di sini adalah Nando Watu dan Eka Kopo dari Remaja Mandiri Community (RMC). Mereka berdua bersama kawan-kawan keren lainnya dari Young South East Asean Leaders Initiative-Indonesia, menggelar sebuah kegiatan sosialisasi dan loka karya yang diberi judul DECOTOURISM. Sebuah tindak lanjut dari rencana untuk membangun fondasi-fondasi awal sebuah Desa Sadar Wisata dengan tetap mempertahankan kondisi Alam, Budaya dan Tradisi serta kearifan lokal Masyarakat setempat (Agro Wisata/Echo Tourism). Kegiatan ini tentu saja melibatkan berbagai elemen, kolaborasi antara kaum muda dan para orang tua, seperti Kelompok Tani, Komunitas Muda, Lembaga Pemerintahan dan lain sebagainya.

Mohammad Arsalan dari TIM YSEALI, tampil sebagai perwakilan untuk memberikan sambutan di awal acara. Ia memaparkan hal-hal penting berkaitan dengan potensi yang dimiliki dan kendala yang dihadapi desa-desa di Flores pada umumnya.

“Tourism akan hidup ketika kita memiliki akses. Sebagian besar wilayah di Flores masih terkendala dengan infrastruktur yang kurang memadahi. Akan tetapi, Kabupaten Ende telah memiliki bandara yang dapat mendukung pegembangan Decotourism. Ini peluang yang bagus bagi Detusoko, kita hanya perlu memaksimalkan potensi yang ada di sini.” paparnya.

Arsalan juga menyampaikan beberapa masalah utama yang menjadi poin penting untuk diperhatikan masyarakat setempat dalam rangka pengembangan pariwisata berbasis pertanian.

“Tiga masalah yang harus kita atasi bersama, antara lain; Pertama, mindset untuk keperluan Regenerasi, anak-anak muda belum berminat menjadi petani. Kedua, Marketing, bagaimana kita membangun brand dengan menguasai teknologi dan mengikuti semua prosedur yang ada. Ketiga, Standarisasi, kita patut mempelajari hal-hal terkait Produk pertanian serta Paket wisata yang memenuhi standar. Jika kita telah memahami kualitas dan konsisten mempertahankannya, dengan sendirinya konsumen akan datang dan berlangganan produk kita.” Ungkap Arsalan.

Pada acara ini, hadir pula beberapa Tokoh yang memiliki peranan penting dalam mengatur hajat hidup orang banyak di kalangan masyarakat Detusoko dan Kabupaten Ende. Sebut saja, Bapak Philipus Kami selaku Anggota DPRD Kabupaten Ende dan juga Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara. Bapak Camat Detusoko, Yohanes Hebi. Bapak Kepala Desa setempat atau yang mewakili. Bapak Kepala Dusun Wolobudu. Kelompok Tani Gololada dan Kelompok Tani Bungalombu yang kemudian diketahui telah berkiprah hampir tiga puluh tahun lamanya.

Philipus Kami pada sambutannya meghimbau masyarakat yang hadir agar memanfaatkan kesempatan ini untuk menyerap pengetahuan sebanyak-banyaknya serta mulai konsisten menjalankannya. Beliau berharap dengan kehadiran Tim Muda dari YSEALI, dapat memberi kontribusi tambahan untuk kemajuan Detusoko yang lebih baik.

“Membangun hidup baru harus banyak kreasi dan inovasi serta tidak bisa sendiri, kita membutuhkan bantuan orang lain. Cara berpikir kita saat ini, masih sebatas bertani dan berkebun, belum sampai pada pariwisata. Oleh karena itu, kita harus tetap konsisten menjalani proses ini. Regenerasi cara berpikir kita.” Ungkap beliau.

Lebih lanjut, beliau juga mengapresiasi kerja kaum muda di Detusoko melalui Remaja Mandiri Community (RMC) yang terlibat dalam berbagai kegiatan bermanfaat.

“Tongkat estafet harus mulai diberikan kepada anak muda. Keberadaan kelompok ini harus didukung pemerintah, partisipasi masyarakat yang kuat dan konsisten. Petani harus menjadi masa depan!” Tegas beliau.

Sementara itu, Camat Detusoko, Yohanes Hebi memberikan sambutan sekaligus motivasi bagi masyarakat di Dusun Wolobudu, tempat di mana kegiatan ini berlangsung.

“Pembangunan Ekonomi dan Pariwisata Pembangunan hendaknya berdasarkan karakter masyarakat setempat (kekhasan wilayah) sebagaimana termaktub dalam Enam Karakter Pembangunan Ekonomi Kabupaten Ende. Yang antara lain, Tedo Tembu, Wesa Wela (bidang pertanian) Gaga Boo , Kewi Ae (bidang perkebunan), Peni Nge, Wesi Nuwa (bidang peternakan) Weke Togi, Soro Sai (bidang perikanan) Teka Laku, Daga Geti (bidang perdagangan) dan Wenggo Nua, Nena Ola ( Penataan Tata Ruang wilayah – bidang lingkungan hidup dan Pariwisata).” demikian beliau menyampaikannya di awal sambutan.

Beliau juga menuturkan bahwa Detusoko memiliki potensi-potensi yang luar biasa dan patut dikembangkan secara lebih serius.

“Tiga potensi wisata Detusoko, Alam, Budaya dan Religius harus terus dipertahankan sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung yang datang dari luar. Detusoko akan menjadi basis wisata yang strategis sebagai pintu masuk wisata untuk Kabupaten Ende sebelum mencapai tujuan wisata potensial, Danau Kelimutu.” Ujar beliau.

Ke depannya beliau berharap , akan ada banyak event yang diselenggarakan di kecamatan ini sebagai upaya menarik perhatian khalayak ramai untuk berkunjung dan mendapatkan pengalaman luar bisa di  Detusoko.

Pada acara ini, RMC dan TIM YSEALI mendatangkan tiga Pemateri untuk mengisi loka karya. Antara lain, Bapak Lukas Lawa selaku Ketua Koperasi Produksi Kopi Kelimutu dan Kepala Desa Gololada. Beliau membagikan pengalaman tentang budidaya kopi, proses pengolahan hingga pemasaran yang tepat sehingga tidak merugi. Juga ada Bapak Anno Kean dari Pusat Pariwisata Universitas Flores yang membawakan materi mengenai Agro Wisata. Anno menghimbau, masyarakat diharapkan sudah memiliki kesadaran akan potensi desa dalam pengembangannya menuju desa wisata, kesempatan ini akan menjadi kerja bersama dari dan untuk masyarakat sendiri. Kemudian, ada Bapak Wilhelmus Lele Selaku Kepala Badan Penyuluhan dan Pertanian Kecamatan Detusoko yang menganjurkan Ibu-ibu untuk selalu memiliki Apotik Hidup sendiri di halaman rumah. Di Akhir acara, Bapak Wilhelmus bahkan membagikan Polibeg kepada Ibu-ibu agar materi yang didapat bisa langsung dipraktekan di rumah.

Demikian Pembangunan Ekonomi dan Pariwisata diharapkan hadir tanpa harus merusak sendi-sendi utama kehidupan sosial masyarakat yang masih lekat dengan Pertanian, Budaya dan Tradisi serta Agamanya.

DECOTOURISM, Mbe’o Ngga’e, Mbe’o Imu, Mbe’o Tebo. Salam dari Desa 🙂

 

 

 

Please follow and like us:

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

five + 20 =