Cocoa Nul; Bubuk Coklat Wolonwalu (Flores)

Maumere, lingkar-desa.com- Belakangan ini Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur dikenal memiliki produk bubuk coklat bernama Cho-Sik. Namun, sebelum Cho-Sik, rupanya ada bubuk coklat lain berasal dari Wolonwalu, Kecamatan Bola, Sikka. Namanya Cocoa Nul.

Cocoa Nul berarti Coklat Nusa Loran. Nama ini diambil dari nama Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) Nusa Loran Desa Wolonwalu yang mengolah kakao hasil panen petani menjadi bubuk coklat. Gapoktan Nusa Loran sendiri terdiri atas 14 Poktan (Kelompok Tani) dengan total 223 petani sebagai anggota.

Menurut Ketua Gapoktan Nusa Loran Desa Wolonwalu, sebelumnya biji kakao hasil panen dijual langsung ke pasar setelah dikeringkan. Para petani yang membudidayakan kakao tak pernah mengecap rasa tanaman yang mereka rawat dengan susah payah di kebun masing-masing.

Maka sejak tahun 2013 dimulailah usaha mengolah biji kakao menjadi coklat. Semua tahapan masih dilakukan dengan peralatan yang sederhana. “Walaupun sederhana tetapi kami pilih biji kakao dengan kualitas terbaik hasil fermentasi. Kadar airnya 7 persen,” ujar Minsia saat ditemui dalam Bursa Inovasi Desa di SCC pada Kamis, 12/10/2018.

Tidak semua biji coklat hasil panen dijadikan bahan baku pembuatan coklat tetapi hanya biji terbaik. Biji pilihan disortir melalui beberapa tahapan.

Pertama sekali buah coklat terbaik akan diperam selama 4 malam. Setelah diperam buah coklat dibelah untuk diambil bijinya. Selanjutnya biji basah tersebut dijemur di tempat penjemuran.

Setelah dijemur biji kakao akan disortir kembali untuk memisahkan biji lengket dan biji kecil. Hasilnya adalah biji yang siap diolah menjadi bubuk coklat.

Biji pilihan lantas digonseng. Selanjutnya dilakukan pemisahan kulit ari. Biji kemudian ditumbuk dan diayak menjadi bubuk coklat untuk selanjutnya dikemas.

 

Masih Sederhana

Minsia menuturkan usah produks bubuk coklat ini pernah menjadikan Gapoktan Nusa Loran Desa Wolonwalu menjadi salah satu Gapoktan Berprestasi Tingkat Nasional. Selain itu, lebih menguntungkan secara ekonomis. “Kalau selama ini biji kakao dijual seharga kurang lebih Rp 20.000 an per kg. Sekarang kami jual bubuk coklat Rp 200.000 per kg,” terang Minsia.

Meskipun demikian, sampai saat ini produksi masih dilakukan dengan sederhana sehingga kapasitas produksinya pun terbatas. Ada keinginan agar dijadikan industri rumah tangga. “Kami pernah dapat alat tetapi alatnya bermasalah, tidak bisa digunakan,” terangnya.

Ada kendala lain yakni izin edar bahan makanan atau PIRT dan pengemasan. “Untuk sementara kami pakai sisa kemasan yang diberikan saat pelatihan. Kami juga sedang berupaya untuk dapatkan rekomendasi dari BPOM,” tambah Minsia.

Dengan segala kekurangan yang ada, Cocoa Nul adalah bukti upaya masyarakat desa memberikan nilai lebih pada hasil kebunnya. Ini yang patut dicontoh oleh petani di desa lainnya. Gapoktan Nusa Loran Wolonwalu pun tentu membutuhkan banyak dukungan moril maupun materil dari semua pihak.*** (adp)

Please follow and like us:

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

one × three =