Inovasi ala Nele; Menyulap Batu dan Bambu Jadi Kulkas

Maumere, lingkar-desa.com- Kulkas yang biasa anda temui terbuat dari campuran aneka bahan diantaranya logam dan fiber. Komponennya pun beraneka ragam seperti kompresor, kondensor, evaporator, termostat dan lain-lain. Yang terpenting untuk menghidupkannya dibutuhkan energi listrik.

Berbeda dengan karya tangan petani bernama Sabinus asal Desa Nele Wutung, Kecamatan Nele, Kabupaten Sikka. Sabinus berhasil menciptakan lemari penyimpan bahan makanan dengan fungsi sama seperti kulkas. Bedanya adalah kulkas buatan Sabinus berasal dari bambu dan batu serta bahan-bahan lokal lainnya.

Dinding dari bilangan bambu dibuat berlapis sehingga membentuk rongga dinding. Selanjutnya pecahan batu merah ditempatkan di antara lapisan dinding tersebut.

Pada bagian dalam dibuat beberapa rak dan dilengkapi dengan pintu. Sebuah dulang berisi air ditempatkan di atas lemari bambu tersebut.

Sebagai ganti pendingin digunakanlah selembar karung goni. Bagian tengah karung goni direndam dalam air sementara kedua sisi ujungnya berjuntai ke dinding lemari.

Murah, Tanpa Listrik dan Tahan Lama

Tim Pelaksana Inovasi Desa Kecamatan Nele menyebut kulkas buatan Sabinus ini Kulkas Organik. Disebut demikian karena ramah lingkungan. Selain itu, kulkas ini diklaim lebih mampu menjaga bahan makanan seperti sayuran dan buah-buahan lebih lama dibanding kulkas pabrikan.

“Paling lama bisa dua Minggu. Kalau sayuran yang ada di dalam sekarang ini sudah satu Minggu,” ungkap Ketua Tim Pelaksana Inovasi Desa Kecamatan Nele, Fransiskus Sadipun sembari menunjuk sayuran yang ada di dalam almari di pelataran SCC pada Kamis, 11/10/2018.

Fransiskus menuturkan beberapa unit ‘Kulkas Organik’ karya Sabinus telah dijual seharga Rp 1,5 juta. “Ini paling bagus untuk masyarakat kita di kampung yang belum memiliki listrik,” tandasnya.

Fransiskus mengaku pihaknya menjadikan pedagang pasar terutama sayuran sebagai target pasar.

Ditanya perihal kemungkinan adanya plagiasi, Fransiskus mengaku sedang mengupayakan adanya hak paten. “Kalau sudah ada hak paten kami siap beri pelatihan ke desa-desa lain. Mereka boleh turut memproduksi tetapi di bawah kontrol kami,” tegasnya.***(adp)

Please follow and like us:

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

11 − five =