Bagi Adeodatus, Kualitas Kakao itu Keutamaan

Stanislaus Adeodatus sedang menjemur kakao di halaman rumahnya ketika saya sambangi kediamannya di Desa Rubit, Kecamatan Hewokloang, Rabu (16/5/2018). Dia rupanya sedang bersemangat mengurus penjualan kakao tersebab kondisi harga yang “baik” untuk ukuran petani seperti dirinya.

Bagi dia, harga kakao berkisaran tiga puluhan ribu rupiah sudah menjadi anugerah tersendiri.  “Saya bahkan sempat jual sampai 42500 rupiah per kilo. Tapi, rata-rata harganya itu sekitar tiga puluh delapan ribu. Naik turunnya harga tidak terlalu jauh,” ujarnya.

Adeodatus merupakan salah seorang petani kakao berpengalaman yang telah menekuni pekerjaannya sejak tahun 2009. Dia memiliki dua buah kebun kakao dan hari-harinya memang dihabiskan untuk mengurus tanaman itu. Hampir setiap hari, dia selalu memanen kakao-kakao meskipun jumlahnya tak banyak. Dia juga mengecek terus perkembangan buah-buah itu, termasuk keberadaan hama dan penyakit yang cukup rentan.

“Bila sudah ada gejala pembusukan buah atau rusaknya daun, itu saya langsung segera potong,” ungkapnya. Makanya, Adeodatus bekerja ekstra keras setiap hari. Tak hanya mengecek kebunnya, tapi juga menjemur biji-biji kakao dan pergi menjualnya. Apalagi profesi petani kakao telah menjadi pekerjaan utamanya.

Pria yang pernah beberapa kali mengikuti magang dan pelatihan nasional soal budidaya kakao ini juga menjelaskan bahwa kualitas kakao sejatinya sangat menentukan harga kakao itu sendiri. “Kualitas kakao yang bagus itu jika kadar airnya sekitar tujuh persen. Kalau di sini, saya biasa jemur dua hari saja untuk dapat kadar air tujuh persen tadi. Kalau jemur terlalu lama, itu bisa kurangi kadar airnya,” pungkasnya. Alasan Adeodatus melontarkan poin demikian karena para pembeli kakao di kota Maumere biasanya tahu baik mana kakao berkualitas dan mana yang tidak.

Namun, hal lain yang patut disadari, salah satu masalah terbesar tatkala harga membubung naik adalah aksi-aksi usil dari diri petani sendiri, semisal memperbanyak jumlah dengan komoditas tak berkualitas atau rusak. Inilah yang berpotensi untuk membuat harga turun. Adeodatus pun mengakui itu.

“Kalau harga lagi naik, kami para petani sebenarnya ditantang untuk bisa jaga kualitas . Jangan sampai kakao yang dijual itu sudah ada banyak campuran dengan barang-barang lain hanya untuk kasi tambah berat,” tandasnya.

Selama ini, Adeodatus memang selalu menjaga kualitas kakaonya karena dia berpikir bahwa menjaga kepercayaan pembeli atau pelanggan merupakan sesuatu yang mahal. Dan jauh lebih berharga dari besaran bobot kakao itu sendiri tentu saja.

Please follow and like us:

Comments are closed.