Mengembalikan Semangat Gapoktan

Menurut Peraturan Menteri Pertanian Nomor : 273/Kpts/ot.160/4/2007 tentang pedoman pembinaan kelembagaan petani, Gapoktan adalah  kumpulan beberapa kelompok tani yang bergabung dan bekerja sama untuk meningkatkan skala ekonomi dan efisiensi usaha.

Di Kabupaten Sikka, Gapoktan sendiri mulai dikembangkan sejak Tahun 1995, sejak salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat yang berkiprah di bidang pertanian, Wahana Tani Mandiri (WTM) melakukan Lokakarya Gapoktan saat itu.

Lokakarya dimaksud bertujuan menemukan sistem penerapan semangat Gapoktan yang sesungguhnya, yakni menjadi lembaga penggerak pertanian di desa dan sebagai wadah pertukaran informasi, teknologi dan inovasi di bidang pertanian.

Pada tahun 2008, Kementerian Pertanian mengembangkan program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP) dengan mengucurkan dana Rp.100.000.000,- per Gapoktan. Tujuannya adalah memberikan kepastian akses pembiayaan kepada petani anggota Gapoktan.

Namun, kucuran dana tersebut rupanya tidak dibarengi dengan sistem managemen pengelolaan Gapoktan secara baik.  Alhasil menuai banyak persoalan antara lain kredit macet. Penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah managemen dan kepengurusan yang tidak jelas serta sistem pengelolaan yang tidak transparan.

Rumusan Untuk Dikembangkan

Pada 22 Maret 2017 lalu, Wahana Tani Mandiri (WTM) Sikka bersama Dinas Pertanian kembali melakukan workshop di Pusat Sekolah Lapangan (Puskplap) Jiro Jaro, WTM di Desa Bhera, Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka.

Tujuan workshop dimaksud untuk mengembalikan semangat pengembangan Gapoktan yakni sebagai wadah pertukaran informasi, teknologi dan inovasi kelompok tani di desa.

Workshop tersebut akhirnya menghasilkan kurang lebih 15 langkah pengembangan Gapoktan. Kelimabelas langkah tersebut diharapkan bisa menjadi acuan pengembangan Gapoktan di Kabupaten Sikka ke depan.
Dari 15 langkah tersebut dibagi dalam 5 bidang antara lain ;

Pertama, Organisasi.
Perlu ada pertemuan pengurus Gapoktan, Reorganisasi kepengurusan Gapoktan jika perlu, Gapoktan melakukan pertemuan dengan Poktan minimal sebualan sekali, Gapoktan melakukan pertemuan bersama anggota Poktan, Anggota Gapoktan adalah jumlah Poktan yang ada di desa

Kedua, Status Hukum.
Perlu ada revisi SK Kepala Desa bagi Poktan yang belum bergabung di Gapoktan dan Revisi AD/ ART Gapoktan

Ketiga, Peningkatan Kapasitas.
Pengembangan administrasi Gapoktan dan Poktan, Pelatihan managemen Gapoktan dan Poktan, Evaluasi Triwulan, Semester dan Tahunan

Keempat, Pengembangan Usaha.
Pengembangan Usaha Tani dan UBSP, Gapoktan harus menjadi Badan Usaha Milik Desa (Bumdes)

Kelima, Kerja sama.
Pendampingan ke Gapoktan oleh PPL dan mitra kerja lainnya minimal dua kali sebulan, Kunjungan silang ke Gapoktan yang berhasil, Gapoktan membangun mitra kerjasama dengan salah satu lembaga keuangan.

Hasil rumusan tersebut sementara diterapkan di tiga kecamatan yakni, Kecamatan Mego, Kecamatan Tanawawo dan Kecamatan Magepanda. Hingga saat ini kurang lebih 11 desa di 3 kecamatan tersebut sudah melakukan pembenahan Gapoktan.

Hakikatnya Gapoktan bukan sebagai wadah simpan pinjam uang yang kemudian meninggalkan kredit macet, tetapi yang paling penting adalah sebagai wadah pertukaran informasi, teknologi dan inovasi bagi para petani di desa.

Please follow and like us:

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

fifteen − five =