Mengenal Terasering ‘Bingkai A’

Terasering Bingkai A adalah salah satu metode konservasi dalam mempermudah pembentukan top soil (lapisan tanah paling atas) pada lahan pertanian yang miring.

Tujuan dari metode ini adalah menahan laju air permukaan sehingga resiko kehilangan top soil dapat teratasi. Top soil merupakan lapisan tanah paling atas yang kaya akan nutrisi untuk kesuburan tanaman.

Membuat Bingkai A

Bingkai A bisa dibuat dari kayu yang ada di sekitar kebun seperti gamal, lamtoro atau bambu.

Syaratnya kayu tersebut harus lurus. Dua bilah kayu sama panjang (150 cm) diikat membentuk segitiga sama kaki. Selanjutnya bilah kayu ketiga dengan ukuran lebih pendek (100 cm) diikat pada kedua kaki segitiga menyerupai huruf A.

Langkah Membuat Terasering Bingkai A

Langkah pertama adalah menentukan titik kontur sepanjang lereng dengan Bingkai A pada lahan yang akan diolah.

Pada tahap ini petani menentukan titik terluar bagian atas lereng dan diberi patok sebagai sebagai titik star garis kontur. Jarak masing-masing patok 3-5 m disesuaikan dengan kemiringan lahan.

Selanjutnya, salah satu kaki Bingkai A diletakkan pada titik awal dan kaki yang lain pada arah dalam lahan, biasanya dimulai dari arah kiri. Perhatikan titik potong tali dan kayu palang Bingkai A yang diberi garis sebagai titik keseimbangan.

Jika potongan benang atau tali tepat pada titik keseimbangan, maka bagian kaki lain Bingkai A diberi patok sebagai titik kontur selanjutnya. Lakukan hal yang sama mengikuti kondisi lereng lahan hingga terbentuk garis kontur.

Akhirnya garis kontur dirapikan kembali. Kemudian dibuat guludan (pematang) pada garis kontur menggunakan cangkul. Lebar dan tinggi guludan dianjurkan mencapai 40-50 cm.

Guludan yang sudah dibuat selanjutnya akan ditanami tanaman leguminosae seperti jenis Leucaena Leucocephala (Lamtoro) dan Gliricidia Sepium (Gamal). Jenis tumbuhan ini ditanam secara generatif di atas guludan teras yang nantinya akan bermanfaat sebagai pasokan makanan ternak dan sekaligus sebagai pupuk organik.

Sementara itu, lahan antara setiap guludan dapat ditanami tanaman pangan dan hortikultura. *** (Mus Muliadi)

Please follow and like us:

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

four × four =