Ogor Paret dan Kisah-Kisah Dari Tebing Batu

Maumere, lingkar-desa.com- Desa Waihawa setahun belakangan mulai dikenal oleh khalayak dari luar Kecamatan Doreng bahkan di luar Kabupaten Sikka. Bentangan karang Ogor Paret lah magnet baru dari Waihawa. Padahal jauh sebelumnya ada pantai pasir putih Doreng yang coba ‘dijual’ kepada publik dan wisatawan atau pun pelaku pariwisata.

Gencarnya promosi di dunia maya oleh Kepala Desa Waihawa, Vitalis Julianus. “Awalnya kami lihat beberapa anak muda ke tempat itu untuk foto-foto. Saya berpikir tempat ini bisa menjadi objek wisata yang mampu menumbuhkan ekonomi warga sekitar,” terang pria plontos yang biasa disapa Julio ini beberapa waktu lalu di kediamannya, Habi Bola, Desa Waihawa.

Maka mulailah komunikasi dengan para pemilik lahan, anak-anak muda dan pelaku usaha kecil di sekitar Ogor Paret. Ogor Paret pun mulai ditata diantaranya disediakan lahan parkir lengkap dengan penjaganya dan tempat-tempat duduk dari bahan lokal disebut tedang untuk pengunjung dan penjual makanan ringan.

Dengan segala keterbatasannya Ogor Paret mulai bekembang sebagai salah satu spot pariwisata di Kecamatan Doreng. “Saya sedang persiapkan ke depan ada intervensi melalui Dana Desa untuk pengembangan Ogor Paret. Kalau selama ini masih sifatnya membangkitkan inisiatif rakyat untuk mengembangkan pariwisata,” terangnya.

Tidak Sekedar Batu Karang
Ogor Paret adalah tebing karang seluas kurang lebih 600 M2. Bentuknya menyerupai semenanjung dengan ujung yang menjorok ke laut dengan permukaan yang landai.

Berbeda dengan karang lainnya, Ogor Paret lebih menyerupai lantai semen yang nyaman diinjak meski dengan kaki kosong kecuali pada bagian tertentu. Ada pola-pola simetris terbentuk di permukaannya.

Di Ogor Paret sendiri terdapat beberapa titik penting yakni dua lubang yang diduga dijadikan sumur disebut ‘but wain’ dan ‘but lamen’. Selain itu ada pula tungku alam dan telapak kaki raksasa.

Pada sisi barat tebing terdapat gua yang merupakan istana burung walet.

Dari Kisah Sejarah Sampai Kisah Cinta
Nama Ogor Paret sendiri diduga berasal dari dua kisah. Secara etimologi ‘Ogor’ berarti mengguling sementara ‘paret’ berarti beras. Ogor bisa juga berasal dari kata ‘Ogo’ yang berarti tawar-menawar.

Di masa lampau Ogor Paret sebenarnya merupakan pelabuhan alam. Menurut Julio, sekitar tahun 1940-an orang-orang Bola mulai bermigrasi ke daerah yang sekarang disebut Habi Bola.

Transportasi yang digunakan adalah sampan yang tentu saja melewati jalur laut untuk pergi ke Bola atau sebaliknya.

Ogor Paret juga menjadi tempat bersandar perahu-perahu nelayan di masa lampau. Para nelayan singgah untuk mendapatkan hasil mengumpulkan bekal makanan. Terjadilah barter antara hasil kebun dengan hasil laut di Ogor Paret. Dari sanalah kemungkinan nama Ogor Paret itu berasal.

“Dulu masih kecil kami sering liat orang tua kami dan masyarakat di sini ke Ogor Paret untuk naik perahu ke Bola atau untuk barter,” ungkap Julio.

Peran Ogor Paret sebagai pelabuhan alam mulai berkurang perlahan lenyap sejak munculnya mobil sebagai angkutan jalan darat dari Bola ke Habi Bola dan sebaliknya. “Tahun 84 atau 85 sudah mulai kurang karena ada mobil sehingga kalau mau ke pasar atau mobilisasi hasil kebun sudah lewat darat,” tambah Julio.

Tungku alam, sumur dan gua alam diduga digunakan oleh pelaut-pelaut yang berlabuh di Ogor Paret di masa lampau. Ogor Paret juga menjadi area bermain anak-anak. Julio mengaku di masa kecilnya pada tahun 70-an, Ia dan teman-temannya selalu singgah bermain di tempat itu sehabis pulang sekolah.

Karena ramai dan jadi pusat aktifitas warga, api asmara di kalangan orang muda pun tumbuh di Ogor Paret. Ada satu kisah cinta yang masih terekam sampai saat ini.

Itulah kisah cinta antara Victoria asal Habi Bola dengan seorang nelayan asal Kampung Sikka bernama Slipi. Keduanya bertemu di Ogor Paret. Pada akhirnya keduanya pun menikah dan menetap di Sikka. Beberapa keturunannya saat ini tinggal di Nen Bura dan di Waihawa.

Ogor Paret bukan hanya tentang batu atau hal unik yang disediakan alam. Ogor Paret juga menyebutkan banyak kisah.*** (ADP)

Please follow and like us:

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

one × two =