Ketika Gerobak ‘Lahirkan’ Sarjana

Maumere, lingkar-desa.com-Bernadus Raga hanyalah seorang pendorong gerobak biasa yang menjual sayur-mayur secara berkeliling. Namun, siapa sangka, pria enam puluh tiga tahun itu mampu menyekolahkan tiga orang anaknya hingga jadi sarjana. Saya menemui langsung Bernadus dan istrinya Adriana Bunga (65) di kediaman mereka di Kompleks Longser, Kelurahan Madawat, Kecamatan Alok. Dia mengisahkan pengalamannya selama ini dalam berjuang untuk bertahan hidup.

Sejak kecil, Bernadus memang telah dihadapkan pada realitas hidup yang keras dan penuh tantangan. Dia hanya menyelesaikan studinya di bangku kelas satu SMP. “Saya tidak naik kelas makanya berhenti sekolah,” ujarnya.

Bernadus kecil sadar, kehidupan ekonomi keluarganya pas-pasan sehingga dia pun memutuskan untuk bekerja menjadi penjual roti goreng. Apalagi pada waktu itu dia tak tinggal di rumah orang tuanya di Wolofeo, tetapi menetap di Tebuk, Nita bersama salah seorang kenalannya.

Namun, ketika menjadi penjual roti goreng, Bernadus tak mendapatkan upah apa-apa, lantas hengkang dari Nita dan pergi mengadu nasib ke kota Maumere. Masih dalam usia yang sangat dini, Bernadus bekerja di toko Agung dari tahun 1969 hingga 1971.

Dia bekerja apa saja di usaha dagang tersebut. Tak hanya sebagai pelayan di toko saja, tetapi juga sebagai buruh pikul karung dan tukang pel. Gajinya sebesar seribu rupiah. Jumlah uang seribu ketika itu memang lumayan besar untuk kebutuhan makan sehari-hari, demikian tuturnya.

Dari situ, Bernadus melanjutkan pekerjaannya di toko Lion dan menjadi kondektur angkutan pedesaan. Setelah bekerja dua tahun, petualangannya sebagai pekerja toko akhirnya berhenti di toko Semangat Satu. Modal yang dikumpulkannya dari bekerja di toko-toko tersebut digunakannya untuk menjalankan usaha pasar “berjalan”. Maksud dari pasar “berjalan” ini adalah dia menjual barang-barang eceran tapi berpindah-pindah dari satu pasar ke pasar lainnya. Dari pasar Nita ke Nangablo juga Lekebai dan sebaliknya. Aktivitas ini dilakoninya selama empat tahun.

Selanjutnya, dia menjual minyak tanah dan hanya berpusat di pasar Nangablo saja. Namun, laki-laki ini dihadapkan pada kendala, yakni kemacetan modal. Ini sempat memupuskan semangat dan harapan hidupnya. Dia lalu putuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Wolofeo.

“Selama empat tahun di Wolofeo, saya kerja kebun, urus kakao dan kemiri. Dan saya sempat sakit juga waktu itu sehingga tidak punya pekerjaan apa-apa,” tuturnya trenyuh. Bernadus pun sempat meminjam uang dari bank untuk biaya kesehatannya. Jaminannya adalah hasil bumi yang dia miliki tadi. Namun, untuk menutup pinjaman, dia pun melakukan “leis” atau penjualan daging babi.

Setelah sembuh dari sakit, dia memutuskan pergi lagi ke kota. Saat itu, dia sudah menikah dengan Adriana Bunga. Di kota, pasangan ini pun berusaha mencari lahan untuk dibangun rumah. “Kami beli kintal waktu itu dengan harga empat ribu rupiah per satu meter persegi,” tambah Adriana di sela-sela perbincangan. Bernadus pun mulai “tanam kaki” kembali di kota.

Dia berjualan rokok eceran di depan toko Bogadharma. Orang-orang sempat mencibirnya karena usahanya itu hanya beralaskan meja kecil dan jumlah rokok pun tak banyak seperti di toko-toko atau kios menengah lainnya. Dia tentu tak peduli akan cibiran semacam itu. Baginya, selagi apa yang dia buat itu halal, dia akan jalan terus.

Lima tahun menjadi penjual rokok, lelaki ini kemudian menjadi penjual sayur-mayur. Dia menggunakan gerobak dan berjualan dari rumah ke rumah. “Saya keliling kota Maumere. Profesi inilah yang paling lama saya jalankan,” pungkasnya jujur.

Kedua pasangan ini kemudian mempancangkan niat untuk selalu menabung dan terus menabung. “Waktu itu, kami simpan uang di kaleng bekas susu. Ada sekitar tiga kaleng. Pokoknya, kami rela makan seadanya asalkan uang bisa tabung,” tambah Adriana.

Hasil jualan sayur itulah yang digunakan mereka untuk perlahan-lahan membangun dan membenahi rumah. Sekaligus disimpan untuk kepentingan anak-anaknya kelak. Anak mereka berjumlah tiga orang dan waktu itu masih duduk di bangku sekolah dasar.

Pada tahun 2001, Adrianus beruntung karena diterima bekerja dalam lingkup Dinas Kebersihan Kabupaten Sikka sebagai petugas sapu jalanan. Dengan begitu, dia setidaknya telah punya penghasilan tetap. Namun, dia tetap menjalankan profesinya sebagai penjual sayur dengan gerobaknya tadi.

“Dini hari saya bangun lalu pergi sapu dan setelah itu lanjutkan jual sayur. Sore hari, saya berhenti berjualan dan kembali sapu lagi,” tandasnya. Dia sadar bahwa waktu itu kebutuhan ekonomi keluarganya semakin bertambah. Apalagi anak sulungnya hendak melanjutkan kuliah.

Penghasilan tambahan juga diperolehnya sebagai pemulung. Baginya, sampah plastik atau kardus itu sangat berharga sekali karena memiliki nominalnya. Dan dia tidak malu melakukan hal itu. Intinya, dia bisa menyimpan uang sedikiti demi sedikit untuk pendidikan anak-anaknya kelak.

Alhasil, kerja kerasnya tersebut membuahkan hasil. Tiga orang anaknya berhasil dia sekolahkan hingga menjadi sarjana. “Itu merupakan kebanggan kami sebagai orang tua,” tuturnya pelan. Anaknya yang pertama telah menjadi dosen di daerah Sumba Barat Daya. Sementara yang kedua bekerja sebagai perwira kapal pelayaran, dan yang ketiga  menjalani profesi sebagai bidan.

Tak dapat dimungkiri, ada perjuangan yang sangat panjang di balik keberhasilan tiga buah hati tersebut. Bernadus Raga dan Adriana Bunga telah memberikan bukti konkret bahwa segala bentuk usaha itu mulia dan memiliki maknanya pada kemudian hari. Lantas ketika saya tanyakan poin kunci dari lika-liku perjalanan hidupnya itu, Bernadus menjawab tegas, “Kerjakan apa saja asalkan halal dan jangan pernah iri hati dengan orang lain. Tuhan sudah atur jalan terbaik untuk setiap umatnya.” Dan dari gerobak sayur itulah, lahirlah tiga sarjana hebat.

Please follow and like us:

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

16 − 3 =