Nuru; Ritual Usir Hama ala Warga Dobo dan Piring

Maumere, lingkar-desa.com- Masyarakat Kampung Dobo dan Piring, Desa Ian Tena, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka, memiliki ritual pengusiran hama pada tanaman. Mereka menyebutnya Nuru atau tolak bala.

Penyejajaran dengan istilah tolak bala digunakan seiring dengan perluasan makna hama yang tidak lagi hanya melulu pada hewan pengganggu tanaman melainkan juga penyakit atau masalah yang ada dalam masyarakat. “Bukan hanya tentang penyakit tetapi juga semua masalah sosial seperti ata gowa ele, na’o norok (perbuatan amoral dan mencuri,-red) yang ada dalam masyarakat,” terang Kanisius Ani kepada media ini beberapa waktu lalu.

Ritual ini diikuti oleh seluruh masyarakat di masing-masing kampung dan berlangsung selama 3 hari 3 malam. Biasanya ritual dilaksanakan setiap pertengahan Mei setiap tahun yang didahului dengan penyelenggaraan di Dobo dan disusul dengan nuru di Piring.

Meskipun demikian, ritual ini telah bertahun-tahun absen dari kehidupan masyarakat di Kampung Piring dan Dobo. Pada 2016 lalu ritual ini sempat dihidupkan kembali walau tahun ini Nuru kembali tak diselenggarakan.

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, Nuru bermula dari nenek moyang orang Piring yang tinggal di kampung tersebut sejak zaman dahulu kala atau yang disebut ‘saing watu puhun blutuk tanah wuan nurak’. Keluarga-keluarga yang tinggal dikenal dengan sebutan ‘lepo’ antara lain lepo Tana Pua’an, Lepo Kokokek, Lepo Buwun, Lepo Sadopun, Lepo Gajon, Lepo Mula, Lepo Bari, dan Lepo Tuja.

Lalu datanglah seorang perempuan dari suatu tempat di arah matahari terbit yang dikenal dengan nama Ili Wuli.

Perempuan bernama Du’a Buku Wewe ini diduga sebagai Helang atau makhluk astral. Tubuhnya penuh luka dan borok serta kudis dan kurap. Ia telah berjalan dari kampung-kampung untuk meminta makanan dan tumpangan namun ditolak oleh penduduk kampung-kampung tersebut.

Pada akhirnya ia tiba di Kampung Piring dan diterima oleh Lepo Tana Puan. Tak lama berselang kedua kampung tersebut diserang berbagai macam hama. Setelah sekian banyak upaya pengendalian hama gagal, para pimpinan adat bersepakat melakukan upacara adat. Tujuannya untuk menghantar hama keluar dari kampung dan lahan pertanian sekaligus memberi batas atau yang dikenal dengan istilah ‘duen dure tika magat tung tatung’.

Dari Togo Sampai Eba


Nuru terdiri atas beberapa bagian yakni togo halak, ou herin winan, ou natar unen, togo nara dan berakhir dengan eba oba dengan pusat berpusat di tengah kampung. Togo halak dilaksanakan pada malam pertama yang berlangsung antara pukul 19.00 – 22.00 sebagai pertanda dimulainya ritual nuru.

Segenap warga kampung akan menari bersama membentuk lingkaran dipimpin oleh seorang pemimpin yang melagukan syair-syair adat. Togo halak juga dilakukan pada malam kedua.

Padahari ketiga akan dilakukan ou herin winan yang dipimpin oleh helang met damar laka atau kepala setan atau helang bersama 6 orang helang lainnya. Mereka akan mengumpulkan bahan makanan dari kebun dan perkampungan-perkampungan yang berada dalam wilayah ulayat mereka.

Yang menjadi ‘helang met damar laka’ adalah keturunan dari lepo tana pu’an. Bagian ini biasanya berlangsung selama 1 hari yang disusul dengan ou natar unen dimana tetua adat akan mengumpulkan semua jenis hama seperti tikus, belalang, ulat dan lai-lain yang kemudian disimpan dalam suatu wadah bambu yang disebut teren.

Selanjutnya dilakukan togo nara semalaman suntuk. Warga menari mengelilingi teren sambil bernyanyi lolo dae-dae. Semua bahan makanan atau pun uang yang diperoleh oleh para helang sepanjang hari tersebut wajibdihabiskan dalam ritual nuru dan tidak boleh dibawa ke rumah masing-masing. Setelah pagi tiba dilakukan pembuangan hama-hama tersebut yang disebat eba oba. Eba oba dilakukan di salah satu titik yang diyakini sebagai batas ulayat.

Inisiatif Dari Akar Rumput


Demikianlah Nuru biasanya diselenggarakan. Yang menarik dari ritual ini adalah partisipasi dari segenap warga terutama keluarga-keluarga dalam kampung masing-masing untuk secara bergotong royong mensukseskan Nuru.
Penyelenggaraan Nuru pun bukan terutama atas kehendak para tetua adat. Keresahan anggota komunitas menjadi pemicu awal. Para tetua kemudian memfasilitasi kulababong atau dialog untuk membahas Nuru.

Tua muda, besar kecil, laki dan perempuan, semua bergembira dalam Nuru. Tarian togo halak dan nyanyian ‘lolo dae-dae’ menjadikan malam puncak semakin semarak.***

Please follow and like us:

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

twelve − 3 =