Revitalisasi Koperasi Sejati (Sebuah Catatan Pengantar)

Awan Santosa*)

Apa yang terlintas dalam benak kita begitu mendengar kata “koperasi”? Yah, kebanyakan orang langsung teringat dengan “utang”, “pinjaman”, “kredit”, dan berbagai istilah sejenis lainnya. Bagaimana bisa? Tentu kita berpikir melalui apa yang kita lihat dan saksikan. Begitu banyak koperasi di sekitar kita, dan kebanyakan usahanya adalah, atau hanyalah, simpan pinjam, dan lebih tepatnya pinjam-pinjam. Kok bisa? Ini pertanyaan serius, yang tidak pernah mendapat jawaban sepadan serius.

Bertahun-tahun kita hidup dengan tertanam, atau ditanam “dogma” bahwa usaha identik dengan modal. Kesulitan usaha adalah akibat tiadanya modal, Kalau usaha mau tambah maju maka haruslah ditambah modal. Tidak ada modal sendiri maka harus pinjam. Tidak ada yang meminjami maka dibuatlah koperasi. Maka lama-lama koperasi identik dengan uang dan modal. Padahal benarkah demikian?

Kalau itu benar, pastilah kita akan melihat koperasi dengan usahanya yang berkibar-kibar. Dan kenyataannya? Terlalu sedikit koperasi yang bersinar, itupun lagi-lagi sebagian besar dengan cara memutar kapital. Sebagian besar tinggal papan nama, jadi bisnis ketuanya saja, dan tak sedikit yang berkoperasi dengan cara menyimpang. Mengapa ini terjadi? Padahal sudah 68 tahun kita mencitakan Indonesia berkoperasi? Apa yang harus kita lakukan sebagai jalan keluar?

Bagian ini akan mencoba menjawab berbagai kegelisahan demikian. Yah, kita perlu lebih resah dan gelisah lagi. Mengapa? Tahun 2012 yang lalu PBB sudah mencanangkannya sebagai Tahun Koperasi. Dan, koperasi tumbuh berkembang luar biasa di banyak negara maju, yang sering kita sebut sebagai negara individualis, liberal, dan kapitalis. Nah, ini lagi bagaimana bisa?

Koperasi rakyat di Jepang menguasai sektor pertanian, di Jerman menguasai perbankan dan keuangan, di Denmark dan Swedia menguasai peternakan, di Prancis menguasai ritel dan keuangan, di Singapura menguasai perdagangan, di Amerika menguasai distribusi perlistrikan, di Italia menguasai distribusi jasa sosial, di Inggris menguasai pasar-pasar, dan banyak lagi contoh fantastis di negara maju lain. Lagi-lagi kita perlu heran, kok bisa?

Tulisan ini dibagi menjadi empat bagian penting yakni; Pengertian dan Prinsip Kooperasi, Dasar dan Cita-Cita Koperasi Indonesia, Masalah Koperasi Indonesia dan Membangun Koperasi Sejati.

Tulisan ini akan menjawab berbagai pertanyaan, persoalan, dan kegelisahan demikian. Tentunya bukan sekedar untuk dipahami, namun sebagai bekal untuk membangun gerakan koperasi sejati sesuai amanat dan cita-cita konstitusi. Dan agar kita tidak pernah melepaskan koperasi dari misi mulianya untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya.

*) Awan Santosa, S.E, M.Sc adalah Direktur Mubyarto Institute, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Mercu Buana Yogyakarta dan pegiat Ekonomi Kerakyatan.

Please follow and like us:

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

one + eleven =