Demi Pendidikan Dasar, Anak-Anak Ini Rela Tempuh Bahaya 3 Kilo Meter

Maumere, lingkar-desa.com- Di tengah hiruk pikuk pemilu dan cerita sukses pembangunan bangsa, ternyata masih ada saja kisah sedih di pelosok tanah air ini. Kurang lebih 30 anak Sekolah Dasar asal Kecamatan Alok Timur, Desa Kojadoi, Pula Besar, Kabupaten Sikka, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) harus menempuh perjalanan yang penuh dengan resiko untuk mendapat pelajaran.

Anak-anak SDN Lebantour asal Dusun Wailago, Kecamatan Alok Timur ini harus menempuh jarak kurang lebih 3 km menyusuri pantai yang penuh dengan resiko menuju Dusun Lebantour letak Sekolah Dasar Negeri tersebut berada. Sejak Sekolah tersebut dibangun tahun 2003 hingga saat ini belum ada akses jalan, baik jalan setapak maupun jalan untuk kendaraan antar dusun.

Saat ditemui media ini beberapa waktu lalu, Pak Mulyadi, Salah satu Guru SDN Lebantour asal Dusun Wailago mengisahkan ceritanya bersama anak-anak di dusun tersebut menuju sekolah setiap harinya.

“Saya bersama anak-anak ini harus rela kebasahan sebelum masuk kelas ketika menempuh perjalanan menuju sekolah pada saat air laut pasang naik. Karena kami tidak punya akses jalan alternatif menuju sekolah, hanya dengan menyusuri pantai”

Mulyadi menambahkan, “kadang kami harus naik tebing di beberapa titik yang memang sulit dilewati ketika air laut pasang naik. Pilihannya hanya dua, naik tebing atau berenang dan basah menuju kesebelah”, tuturnya sedih.

Akibat jarak tempuh yang jauh dan penuh resiko banyak anak yang harus berhenti untuk lanjutkan sekolah alias Drop Out (DO). Satu tahun trakhir tercatat ada 6 anak anak yang terpaksa Drop Out. Mereka antara lain; Suharna (10), Umi Safary (7), Saripa (7), Al Sabri (8), Masdanu (9) Andi Lau (7). Jumlah angka drop out anak-anak dusun wailago ini belum terhitung tahun-tahun sebelumnya.

Adaha, salah satu orang tua murid asal Dusun Wailago membenarkan bahwa ada banyak anak yang drop out termasuk anaknya sendiri, Suharna. “Kami tidak mau anak kami ada apa-apa di jalan, karena mereka masih kecil, sehingga lebih baik mereka tidak sekolah dari pada diterjang ombak”.

Beberpa orang tua di Dusun Wailago mengkisahkan terkait sejarah sekolah SDN Lebantour. Alkisah, Sekitar Tahun 80-an pernah dibangun SD Kaki Margajong di Dusun Wailago tetapi hanya bertahan kurang lebih 2 tahun, selanjutnya dipindahkan ke Dusun Lebantour. Namun di Dusun Lebantour pun tidak berlangsung lama, dipindahkan kembali ke Dusun Wailago dengan status sekolah tersebut sudah negeri. Tapi entah karena apa, Sekolah tersebut  dipindahkan lagi ke Dusun Lebantour hingga saat ini.

Orang tua murid Dusun Wailago berharap ada kebijakan dari pemerintah, sehingga anak-anak di dusun tersebut bisa sekolah tanpa harus jalan ke Dusun Lebantour yang penuh dengan resiko.

“Kami mau ada sekolah disini, entah itu kelas jauh atau apapun bentuknya yang penting anak-anak kami bisa sekolah disini dan tidak harus jalan jauh dengan penuh resiko” ungkap Sahading, salah satu warga Dusun Wailago. ***

Please follow and like us:

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

9 + fourteen =