Kunjungan Misereor Ke Korobhera; Dari Suguhan Pangan Lokal, hingga Mimpi Desa Organik

Maumere, lingkar-desa.com,-Terselip cerita menarik dibalik kunjungan Misereor-Jerman ke Kelompok Tani “Tuke Laka” pada Senin, 11 Februari 2019. “Tuke Laka” adalah nama salah satu kelompok tani asal Desa Korobhera Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kunjungan Misereor Jerman ke kelompok tani “Tuke Laka” ini bertujuan untuk melihat secara langsung perkembangan kelompok tani dampingan Wahana Tani Mandiri (WTM) sebagai salah satu mitra kerjasama Misereor yang ada di Kabupaten Sikka.

Koordinator Misereor Jerman, Mr. Ulrich disambut hangat oleh kelompok tani “Tuke Laka. Suguhan ceremonial adat secara sederhana sesuai tradisi desa setempat seakan memberi pesan bahwa “Tuke Laka” sedang menunjukan identitasnya kepada setiap tamu asing yang datang.

Selanjutnya, perwakilan Misereor dan tim WTM diajak menuju “Kuwu Ola Bhoti Umu”, pondok atau rumah diskusi, tempat berkumpulnya anggota kelompok untuk berdiskusi, atau semacam sekertariat bersama. “Kuwu Ola Bothi Umu” dibangun secara swadaya oleh kelompok pada tahun 2018 kemarin, kondisinya masih sangat sederhana. Walaupun demikian ini adalah pondok atau rumah diskusi bersama yang cukup nyaman bagi kelompok.

Theodorus Dala, Ketua kelompok “Tuke Laka” bersama beberapa tokoh adat atau dalam bahasa Lio disebut “Mosa Laki Ria Bewa” mempersilahkan Misereor dan tim WTM masuk dalam “Kuwu Ola Bhoti Umu” untuk memulai diskusi alias “Kula Kame”.

Suguhan minuman dan makanan lokal khas Lio seperti kue vilu dan moke sebagai simbol kebersamaan dan persaudaraan membuka diskusi pagi itu. Tanpa basa-basi, beberapa pertanyaan pun mulai dilemparkan Mr. Ulrich dari Misereor terkait perkembangan kelompok.

Perkenalan terkait kelompok langsung dipaparkan Theodorus Dala, ketua kelompok “Tuke Laka”. Dalam Bahasa Lio, “Tuke” berarti Topang dan “Laka” berarti membantu atau menolong. Demikian secara harafia “Tuke Laka” diartikan sebagai Saling menopang atau saling membantu antara satu dengan yang lain, jelas Theodorus.

“Tuke Laka” juga merupakan salah satu kelompok yang sudah sejak lama meninggalkan kimia. Sejak didampingi beberapa LSM lokal yang bergerak di bidang pertanian berbasis organik terutama WTM, “Tuke Laka” akhirnya benar-benar meyakini pertanian organik adalah yang paling benar.

Hal ini tidak terlepas dari proses pendampingan WTM melalui berbagai uji coba, seperti kaji banding, kaji terap dan lain-lain. Demikian penjelasan beberapa anggota kelompok yang juga merupakan pendiri kelompok tani “Tuke Laka”.

Dari sisi management kelompok, “Tuke Laka” juga memiliki struktur kepengurusan yang lengkap. Pembukuan yang cukup lengkap, administrasi yang rapih dan perencanaan kerja yang baik telah membawah kelompok ini menuju proses kemandirian yang cukup matang.

Tentunya bukan sekedar cerita belaka, “Tuke Laka” memang sudah mencatat sejarah perjalananya dengan meraih juara 1 tingkat Kabupaten Sikka dalam sebuah ajang perlombaan kelompok tani.

Hingga February 2019, “Tuke Laka” juga memiliki saldo keuangan senilai 63 juta lebih, papar Fatima Bunga, bendahara kelompok dihadapan Misereor. Tentu jumlah yang bukan sedikit bagi sebuah kelompok tani yang beranggotakan 14 orang ini.

Pengembangan pertanian yang sedang digeluti kelompok tani “Tuke Laka” antara lain; Pengembangan pertanian lahan kering dan lahan basa yang semuanya berbasis organik. Pengembangan pertanian lahan kering berupa, Tanaman komoditi, Pangan dan hortikultura. Untuk pangan dan hortikultura “Tuke Laka” juga didominasi bibit-bibit lokal seprti jagung, jenis umbi-umbian, kacang dan lain-lain. Untuk pertanian lahan basah adalah padi sawah dan beberapa jenis sayuran.

Di selah-selah dialog bersama Misereor, anggota kelompok yang terdiri dari beberapa ibu-ibu pun menyiapkan suguhan makanan lokal yang merupakan hasil kerja kelompok. Selain suguhan makanan lokal khas desa, anggota kelompok pun mengisi acara dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars petani karangan sendiri. Mars petani itu berjudul “Petani Selalu Siap”.

Tentunya dibalik cerita sukses pasti ada kekurangan. Mr. Ulrich, Koordinator Misereor mengomentari beberapa hal seperti penggunaan kas kelompok yang belum fokus ke pengembangan usaha tani. Selain itu advokasi kebijakan pemerintah desa yang belum maksimal untuk kelompok tani. Satu hal yang menjadi persoalan serius bagi Mr. Ulrich juga adalah soal keterlibatan perempuan yang masih minim (Gender).

Selain beberapa persoalan tersebut diatas, masih ada juga persoalan yang cukup krusial yakni krisis petani muda.

Direktur Wahana Tani Mandiri, Carolus Winfridus Keupung memaparkan bahwa dalam proses pendampingan, WTM juga menemui adanya krisis petani muda. Hal ini terbukti dari minimnya keterlibatan anak muda dalam kelompok-kelompok tani.

Terkait problem ini, WTM sudah mulai melakukan pendekatan kepada beberapa orang muda di desa dampingan dengan melakukan pembekalan. Untuk sementara WTM juga sedang berupaya agar perwakilan orang muda yang sudah mendapat pembekalan dari lembaga untuk selanjutnya membentuk kelompok tani orang muda di komunitasnya masing-masing sambil terus mendapat bimbingan dari WTM. Winfridus Keupung juga berharap persoalan ini menjadi perhatian bersama dari berbagai pihak, Seperti pihak Gereja dan Pemerintah.

Masalah lain, konsep pertanian organik yang dipelopori WTM sebagai model pertanian terpadu sampai dengan saat ini masih saja bersinggungan dengan kebijakan pemerintah yang terus menyuplay kimia. Winfridus Keupung dihadapan Misereor dan kepala desa Korobhera menekankan, kedepan perlu ada Persdes yang mengatur soal ini. “Kita akan upayakan advokasi kebijakan desa untuk mendorong adanya Perdes yang membatasi kimia masuk ke desa sehingga desa benar-benar menjadi Desa Organik”, Paparnya.

Kepala Desa Korobhera, Darius We’u mengakui bahwa selama ini memang desa belum secara maksimal mengalokasikan dana desa untuk kelompok tani. Sehingga ini menjadi catatan kedepan untuk ditindaklanjuti. Terkait Perdes, kita akan upayakan secara bersama, sehingga membangun komunikasi dan kerjasama antara pihak WTM dengan pemerintah desa yang rutin menjadi kunci.

Perlu diketahui, Misereor merupakan Organisasi Kerjasama Pembangunan Katolik Jerman yang berkomitmen memerangi kemiskinan di Afrika, Asia dan Amerika Latin yang terlepas dari agama, etnis atau golongan. Misereor juga sudah 5 tahun lebih membangun kerjasama dengan Wahana Tani Mandiri (WTM), salah satu LSM lokal yang berkiprah dalam bidang pertanian di Kabupaten Sikka. ***

Please follow and like us:

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

2 × four =