Dasar dan Cita-Cita Kooperasi Indonesia

Oleh Awan Santosa*)

Setelah didahului dengan catatan pengantar tentang Koperasi beserta Prinsip-Prinsipnya, kali ini akan dibahas tentang Dasar dan Cita-Cita Kooperasi Indonesia. Apa yang mendasari Bung Hatta dan pendiri bangsa lain begitu gandrung akan koperasi? Apa sebenarnya arah perjuangan koperasi Indonesia? Mari kita kupas satu persatu mulai dengan pernyataan Hatta berikut:

Demokrasi politik saja tidak dapat melaksanakan persamaan dan persaudaraan. Di sebelah demokrasi politik harus pula berlaku demokrasi ekonomi. Kalau tidak, manusia belum merdeka, persamaan dan persaudaraan belum ada. Sebab itu cita-cita demokrasi Indonesia ialah demokrasi sosial, melingkupi seluruh lingkungan hidup yang menentukan nasib manusia

Hatta mendefinisikan koperasi sebagai “suatu perkumpulan orang yang merdeka keluar dan masuk, atas dasar hak yang sama dan tanggung jawab yang sama, untuk menjalankan bersama-sama perusahaan ekonomi, yang anggota-anggotanya memberikan jasanya tidak menurut besar modalnya melainkan menurut kegiatannya bertindak di dalam perusahaan mereka itu”.

Koperasi dikelola terutama untuk memenuhi keperluan hidup bersama. Dengan begitu, maju mundurnya koperasi bergantung kepada usaha dan tanggungjawab seluruh anggotanya. Sesuai corak produksinya, Hatta membedakan koperasi dengan perusahaan kapitalis:

Pada koperasi yang terutama adalah menyelenggarakan keperluan-hidup bersama dengan sebaik-baiknya, bukan mengejar keuntungan seperti pada firma, perseroan anonim, dan lain-lainnya itu… Berbeda dengan perseroan anonim di mana ahli pesertanya yang terbanyak tidak ikut berusaha melainkan menunggu pembagian keuntungan saja habis tahun, anggota koperasi rata-rata ikut berusaha dan bertanggungjawab (Pidato Hari Koperasi 1, 1951)”.

Hatta kembali mengingatkan dalam Pidato Peringatan Hari Koperasi ke-II tahun 1952 bahwa “dasar koperasi adalah usaha bersama sebagai auto-aktivitet dengan bersama-sama bertanggungjawab”. Dalam koperasi anggota adalah utama. Sementara itu, di sebelah persamaan barulah ada persaudaraan. Koperasi dibangun atas dasar kerjasama, bukan persaingan. Hatta menegaskan dalam hal ini:

Koperasi yang bersaing-saingan satu sama lain akan membawa kerubuhan bagi semuanya. Persaingan itu adalah dasar yang bertentangan dengan dasar koperasi. Dasar koperasi ialah kerjasama. Yang akan beruntung dengan perpecahan koperasi ialah lawannya, perusahaan-perusahaan kapitalis (Pidato Hari Koperasi ke-IV, 1954)”.

Lantas mau dibawa kemana koperasi Indonesia menurut pendiri bangsa? Dan bagaimana kenyataannya arah perekonomian Indonesia sekarang ini? Pada sambutan peringatan Hari Koperasi Tahun 1951 Wakil Presiden Republik Indonesia Muhammad Hatta, yang kemudian menjadi Bapak Koperasi Indonesia menyatakan arah jelas bagaimana koperasi berusaha menghapus sistem ekonomi kapitalis, di mana menurut Hatta:

Pada koperasi tak ada majikan dan tak ada buruh, semuanya pekerja yang bekerja sama untuk menyelenggarakan keperluan bersama. Persekutuan koperasi adalah persekutuan sekeluarga, yang menimbulkan tanggung jawab bersama“. (Hatta, 1951)

Perjalanan ekonomi Indonesia masih menyimpang dari cita-cita pendiri bangsa. Bagaimana bisa? Kutipan di atas bukanlah pandangan Hatta semata, melainkan sudah tercantum jelas dan tegas dalam Pasal 33 UUD 1945 ayat (1):
“perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan”.

Tafsirnya pun sudah jelas dalam bagian Penjelasan yang menyebutkan: “Bangun perusahaan yang sesuai dengan itu ialah koperasi”. Bung Hatta sebagai Bapak Koperasi dan Wakil Presiden RI dalam setiap Pidato Hari lahir Koperasi selalu menyampaikan cita-cita Indonesia berkoperasi. Ekonomi Indonesia di masa mendatang diimpikannya sebagai “kebun koperasi”.

Lalu di mana menyimpangnya? Dulu Hatta selalu mendorong perlunya Bank Koperasi Tani, Nelayan, ataupun Industri. Dan sekarang? Tak satupun tersisa. Bank kita adalah korporasi, yang menjadikan jutaan karyawan sebagai buruhnya saja. Diam tak bersuara dalam pengambilan putusan setiap tahunnya.

Dulu Hatta menganjurkan pemenuhan kebutuhan masyarakat lewat ritel-ritel koperasi konsumsi. Dan hari ini? Bahkan sampai ke pelosok-pelosok desa pun korporasi mendominasi. Lagi-lagi sebagian besar milik luar negeri. Jutaan masyarakat kita menjadi pasar saja. Suara-suara mereka di pasar pun berangsur sepi.

Dulu Hatta mengajak rakyat kecil menabung melalui koperasi. Ini perlu agar tersedia kapital untuk berproduksi. Sekarang koperasi menjadi tempat pemutar kapital orang luar, minim tabungan anggotanya. Tinggal-lah mereka diperas bunga tinggi, meski berkedok koperasi. Pun koperasi simpan pinjam yang maju umumnya mandeg di sini.

Dulu Hatta sudah mengingatkan pentingnya koperasi produksi. Agar rakyat dapat mengolah berbagai sumber daya alam menjadi barang jadi. Semua itu untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri. Dan saat ini? Minyak, gas, batu bara, emas, dan kebun sawit sudah jatuh ke tangan korporasi luar negeri. Tiada produksi kecuali dijual mentah, untuk kebutuhan luar negeri. Impor pun menjadi-jadi.

Dan dulu Hatta pun tak bosan-bosannya memperingatkan banyaknya koperasi yang menyimpang dari prinsip dan jatidiri. Dan sekarang? Seandainya koperasi-koperasi Indonesia ditertibkan sesuai prinsip International Cooperative Alliance (ICA), maka lebih banyak “koperasi” yang tidak patut disebut koperasi. Terlalu banyak koperasi “menyimpang” di negeri ini.

Semua itu dulu, meskipun Pasal 33 UUD 1945 masih ada sampai hari ini. Dan saat ini koperasi-koperasi rakyat di Jerman, Jepang, Prancis, Amerika, Finlandia, Singapura, Swedia, Spanyol, Italia, Denmark, Inggris, Belanda, China, dan Bangladesh telah menguasai sektor-sektor vital perekonomian nasional mereka. Sungguh paradoks adanya Kementerian dan UU Koperasi.

Lalu apa akar masalah dari itu semua?

*) Awan Santosa, S.E, M.Sc adalah Direktur Mubyarto Institute dan Peneliti pada Pusat Studi EKonomi Kerakyatan UGM. Tulisan ini dipublikasikan untuk kepentingan edukasi masyarakat desa.

Please follow and like us:

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

14 + 12 =