Warga Horowura-Adonara Bersastra Lewat Dolo-dolo

Adonara, Lingkar-desa.com – Masyarakat Horowura, Desa Horinara, Kecamatan Kelubagolit, Adonara, Nusa Tenggara Timur, berkumpul bersama di lapangan daerah tersebut guna mementaskan kekayaan bersastranya lewat Dolo-dolo.

Aktivitas yang terjadi pada Jumat sore (28/6/2019) itu merupakan bagian dari rangkaian “Revitalisasi Sastra Berbasis Komunitas” yang mendapat dukungan dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Di sini, tarian Dolo-dolo tak hanya sekadar dilihat sebagai tarian biasa tetapi mengandung filosofi dalam ragam geraknya. Makanya, dolo-dolo adalah juga teks atau sastra itu sendiri. Sebab, ada syair yang dilantunkan di dalamnya. Ada kecakapan bersastra yang digemakan dalam gerak dan irama tarian.

Pada kesempatan itu, adik-adik yang berjumlah sekitar 51 orang yang terhimpun dalam Sanggar Nara Baran, sebuah komunitas seni/budaya di Horinara, pun menampilkan daya kreasi mereka setelah melakukan latihan sekitar bulan April sampai Juni 2019.

Komunitas yang berdiri pada tahun 2008 itu memiliki rekam jejak yang konsisten dalam mewariskan tradisi ataupun budaya kepada generasi muda. Sehingga menariknya, sebagian besar pementasan itu dilakukan oleh anak-anak.

Menurut Lusia Uba Salan, pendamping sanggar, aktivitas ini memberikan manfaat positif karena masyarakat menjadi semakin sadar ihwal pelestarian dan pemaknaan sastra lisan, terutama dalam tarian Dolo-dolo.

“Di tengah makin majunya zaman, kekhasan sastra lisan seperti ini harus terus diwariskan kepada generasi muda,” pungkasnya.

Sementara itu, Ferdinandus Moses Tempo dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan memberikan apresiasi kepada masyarakat Horinara dan Adonara secara umum yang hingga sekarang senantiasa merawat tradisi dolo-dolo.

“Dolo-dolo punya banyak kekayaan. Tidak hanya tentang tarian tapi ada teks yang mau disampaikan. Semoga ini tetap dijaga dan semakin banyak anak-anak di Adonara ini yang mengenal budayanya,” kata dia yang hadir bersama dengan tim dari Jakarta Evi Fuji Fauziyah dan Kupang Erwin S. Kembaren dalam pelaksanaan kegiatan revitalisasi.

Kebersamaan Dolo-dolo kemudian berlanjut dengan menari bersama Tarian Sole Oha, salah satu tarian khas budaya Lamaholot. Semua warga yang hadir, baik anak-anak, kaum muda maupun orang dewasa, membaur satu sama lain. Bergembira dalam nada dan irama.* * * (rik)

Share this article

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

1 + eighteen =