Alexander Seu, Cinta Sepanjang Usia untuk Sekolah dan Tanah Kelahiran

Bagikan!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Keterangan: Alexander Seu (Foto: Kopong Bunga Lamawuran)

lingkar-desa.com- Di atas dataran tinggi, dilindungi kemiri-kemiri dan sebatang beringin besar, Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri Saenam berdiri tegak dengan dinding-dinding bebak yang mulai lapuk. Sebagai pembatas jendela, dipasang kawat-kawat tipis yang kini telah berkarat. Pada ujung kelas sebelah timur, di samping tumpukan bebatuan, satu tiang dipancang dan Merah Putih berkibar terembus angin.

Sekolah itu terletak di Desa Noebeba, Kecamatan Kuanfatu, Kabupaten Timor Tengah Selatan; dibangun di atas sebidang tanah putih tandus pemberian seorang lelaki berumur 72 tahun. Lelaki itu, Alexander Sau, telah memberikan tanah seluas 1,5 hektar secara cuma-cuma untuk pendirian sekolah ini.

Pada hari Kamis (23/7/2020), jelang siang hari, para orangtua siswa di sekolah itu dikumpulkan di depan ruangan kelas. Mereka telah mendirikan sebuah tenda biru, dan terkepung oleh hawa panas Pulau Timor, mereka akan berembuk untuk menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar di tengah suasana pandemi Covid-19.

Para orangtua datang memakai masker, menunggu beberapa saat, dan seiring keluarnya para guru dari ruang guru, mereka pun beranjak menempati bangku-bangku kayu yang telah disiapkan di depan ruang kelas. Di antara mereka semua, Alexander Seu, lelaki 72 tahun itu, duduk pula dan mengikuti pertemuan.

Semua warga Noebeba mengenal lelaki 72 tahun itu, tapi bukan dalam artian seperti kita mengenal seorang tetangga. Mereka tahu bahwa tanpa dirinya, mereka tidak akan bisa menyekolahkan anak-anaknya di sekolah SMA Negeri Saenam ini. Pria tua ini tak hanya memberikan tanah secara cuma-cuma untuk pembangunan sekolah. Dia jugalah yang telah merintis berdirinya sekolah ini.

Orang-orang Noebeba, mungkin juga orang-orang Timor Tengah Selatan, akan selalu mengingat namanya, karena dia telah menyumbang tanah yang cukup besar untuk pembangunan sekolah  dasar, sekolah menengah pertama, dan juga sekolah menengah atas. Tentu saja tak hanya sekedar penyumbang. Dia jugalah yang merintis ketiga jenjang sekolah itu di Desa Noebeba, desa kelahirannya.

Bagi pria kelahiran 25 September 1948 ini, sekolah sangat penting bagi kehidupan seorang manusia. Atas dasar pemikiran seperti itulah, dia telah menyumbangkan paling kurang 5 hektar tanah untuk pembangunan gedung sekolah maupun gereja: 1 hektar tanah untuk pembangunan SDI Noebeba, 2 hektar untuk SMP Negeri Satap Noebeba, 1,5 hektar tanah untuk SMA Negeri Saenam, ditambah lagi sebidang tanah untuk pembangunan gereja di Desa Noebeba.

“Saya sumbang tanah untuk pembangunan sekolah, karena saya tahu, kita tidak bisa apa-apa tanpa pendidikan. Makanya saya rela kasih tanah. Supaya kalau bisa kampung saya bisa berubah. Tanpa pendidikan, kita tidak berubah. Kalau kita bertahan dengan tanah, kita tidak akan berubah,” ucapnya usai mengikuti pertemuan dengan orangtua siswa.

Dengan berdirinya SMA Negeri Saenam, boleh dibilang suram kehidupan pendidikan di Desa Noebeba mulai tersibak.

Sebelum adanya sekolah itu, para siswa yang baru tamat sekolah menengah pertama, mayoritas putus sekolah. Siswa-siswa yang orangtuanya lebih mampu secara ekonomi, akan melanjutkan pendidikan ke Kota SoE, ibukota Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Alexander berkisah, pendirian sekolah menengah atas ini terjadi usai dirinya mengikuti peresmian sebuah sekolah kejuruan di Desa Oehan, Kecamatan Kuanfatu. Mereka mengundangnya ke sana, lalu menunjuknya sebagai ketua komite sekolah.

“Sepulang dari sana saya pikir, kalau di Desa Oehan bangun sekolah kejuruan, kami harus bisa dirikan sekolah umum di sini. Akhirnya kami mulai rintis sekolah ini,” kenangnya.

Tahun 2017 mereka mulai mendirikan SMA Negeri Saenam. Semua warga Noebeba dilibatkan. Untuk pembangunan sekolah ini, Alexander Seu mengaku bisa berubah layaknya ‘diktaktor’.

Dia kumpulkan semua warga, lalu secara swadaya, mereka mulai membersihkan lokasi sekolah. Dia juga meminta semua warga untuk menyumbang beberapa kebutuhan pembangunan sekolah secara swadaya ini. Semua gedung sekolah dibangun di pinggir tanah sekolah, dan jika kemudian ada uang untuk membuat gedung permanen, mereka akan membangun di tengah lokasi sekolah.

Keterangan: Bangunan darurat SMA Negeri Saenam, TTS (Foto: Kopong Bunga Lamawuran)

Setelah lokasi itu dibersihkan, berembuklah mereka kembali, dan mendirikan dua buah ruangan. “lalu tahun 2018, kami dirikan lagi dua ruangan. Sekarang ini murid semakin banyak, dan kami mau bangun lagi. Kami memang menunggu bantuan dari pemerintah. Tapi sedang menunggu, kami juga akan tetap membangun secara swadaya. Tanpa swadaya, kita tidak bisa maju,” katanya.

Sebagaimana diakuinya, tanpa sedikit sikap ‘diktaktor’ dalam dirinya, pembangunan sekolah akan berjalan lambat, bahkan tidak akan terwujud.

“Saya omong bangun kampung itu masyarakat harus ikut. Tidak ada yang tidak mau. Di sini, saya omong tidak ada yang bantah. Kecuali saya pimpin mereka untuk mencuri. Tapi kalau saya pimpin untuk bangun kampung, ikut saya,” katanya dengan suara rendah dan kalem.

Jiwa perintis memang ada sejak lama dalam tubuh yang sekarang mulai menua ini. Segala perjuangannya telah ia tulis, katanya. “Tahun 1982, saya buka SDI Nitus. Saya mengajar juga di situ. Tahun 1983 buka SD Negeri Noebeba. Terus 2012 buka SMP Negeri Satap Noebeba. Baru 2017, SMA Negeri Saenam. Itu semua saya tulis,” terangnya.

Terus Belajar dan Jangan Harap jadi ASN

Di tengah perkembangan hidup yang begitu pesat, di saat memuncaknya keinginan kaum muda NTT mengharap jadi ASN, pria tua ini justru berharap agar para pemuda jangan berangan menjadi ASN. Sekarang dunia sudah berubah, katanya. Dan menjadi ASN bukanlah satu-satunya pilihan bagi kaum muda.

“Yang paling penting adalah teruslah belajar. Belajar tidak hanya sewaktu kita bersekolah. Belajar harus dilakukan seumur hidup kita. Jangan juga terlalu berharap menjadi PNS, karena dunia sekarang sudah berubah,” ujarnya.

Dalam dunia kerja, Alexander juga tidak ingin seorang selalu memilih-milih pekerjaan. Seorang manusia bisa kerja apa saja. “Dan jangan malu menjadi petani. Tidak ada orang yang akan memerintah kita sewaktu kita menjadi petani.”

Pandangannya yang lain yang cukup progresif adalah tentang pemberian bantuan yang selalu diterima oleh masyarakat. Menurutnya, semua bantuan yang diberikan pemerintah tidak akan membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih baik. Pemberian bantuan itu membuat masyarakat menjadi lemah, dan sifat ketergantungan ini membawa masyarakat pada satu mental yang tidak akan membawa perubahan. Di usia senjanya, Alexander Sau berharap semua orang bisa bekerja dengan giat, dan tidak terlalu mengharapkan bantuan dari pemerintah.