Jalan Panjang Petani Desa Hewa Hasilkan Beras Organik

Bagikan!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Aktifitas petani Desa Hewa dalam Sekolah Lapangan Biointensive Pertanian yang diselenggarakan Pemdes Hewa, Ayu Tani, KRKP dan PT. WiSH Indonesia (Foto: Istimewa)

lingkar-desa.com- Petani di Desa Hewa, Kecamatan Wulangitang, Kabupaten Flores Timur patut berbangga. Mereka kini telah mampu menghasilkan beras organik dari sawah atau lahan basah.

Padahal, selama ini mereka lebih dikenal sebagai penghasil mente dan produk pertanian lahan kering lain. Mereka pun bukan tak mengenal budi daya padi. Budi daya padi dengan benih lokal telah dilakukan sejak nenek moyang yang mana padi ditanam di ladang-ladang.

Padi organik yang ditanam sejak April 2020 lalu tersebut telah dipanen pada Selasa (30/6/2020) lalu.

Disebut organik karena menggunakan pupuk hayati untuk menyuburkan tanaman. Sementara itu, untuk mengatasi hama petani menggunakan ramuan bahan-bahan lokal.

Bukan hanya itu, produk beras organik petani Hewa akan dibeli Bumdes Hewa untuk selanjutnya dipasarkan ke desa-desa di Kecamatan Wulangitang. Direktur Bumdes Hewa, Benyamin Widin mengaku sudah menyiapkan nama untuk beras organik Hewa, yakni Beras Helero.

Beras dibeli dari petani seharga Rp 10.000 per kg. Selanjutnya akan dijual seharga Rp 12.000 per kg.

“Kita beri akses ke petani supaya bisa dapat pupuk organik. Lalu berikan pendampingan lagi dalam sekolah lapangan itu jadi jalan terang sebagai desa penyedia beras organik ini sudah siap. Target kami ya bisa tujuh ton kami dapatkan dari petani. BUMDes beli dari petani di desa ini dengan Rp10 ribu lalu dikemas dengan label dan dijual kepada desa-desa di seputaran Kecamatan Wulanggitang ini dengan Rp11 ribu sampai dengan Rp12 ribu/kg. Produk beras organik kami ini kami namakan Beras Helero,” jelas Benyamin.

Percetakan Sawah

Aktifitas petani Desa Hewa dalam Sekolah Lapangan Biointensive Pertanian yang diselenggarakan Pemdes Hewa, Ayu Tani, KRKP dan PT. WiSH Indonesia (Foto: Istimewa)

Ada kuran lebih 354 keluarga di Desa Hewa saat ini. Mereka pada umumnya adalah petani lahan kering. Meski demikian, desa yang berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Sikka ini sesunguhnya dianugerahi air berlimpah.

Pada tahun 2016, Pemerintah menggalakkan ekstentifikasi pertanian padi sawah ke beberapa wilayah di Timur Indonesia untuk meningkatkan produksi beras nasional. Desa Hewa merupakan salah satu desa yang memperoleh program ekstentifikasi sawah tersebut.

Kepada media, Kepala Desa Hewa kala itu, Maria Niron mengungkapkan kecemasan dan harapannya menyambut percetakan sawah di desanya. Ia hanya berharap masyarakatnya sering diajak dan diajar cara bertani di sawah mulai dari tanam sampai panen.

Lahan Seluas 200 hektar disulap menjadi lahan padi sawah, sayangnya masyarakat yang baru mengenal budidaya padi sawah saat itu belum mampu untuk mengolah lahan yang tersedia secara maksimal. Hal ini ditunjukkan dengan presentase pemanfaatan lahan sawah yang sudah dibuka  hanya 25% atau seluas 50 hektar saja.

Fakta ini tidaklah mengherankan. Pasalnya, menanam padi di ladang dan di sawah tentu berbeda. Selain harus menyiapkan lahan berupa petak-petak sawah dan mengatur pasokan air, mereka haru mengakses benih yang sesuai. Soal lain adalah hama dan penangannya.

“Kami ini berprofesi sebagai petani lahan kering sebelumnya. Jadi kami kerja saja. Saat musim tanam kami tanam, musim petik kami petik jadi prinsipnya ya karena kami petani jadi kerja saja sesuai musim. Musim tanam ya tanam. Tetapi sejak dimulainya program pemerintah yang membuka percetakan sawah lalu sampai ada pendampingan dari Ayu Tani, KRKP Bogor dan dari PT WiSH Indonesia itu pikiran kami mulai terbuka untuk mulai mengembangkan pertanian secara lebih maju lagi,” ungkap Ketua Kelompok Tani Ri’i Anak, Yosep Dopi (52)

Meski demikian, tentu ada untungnya. Bila di ladang padi hanya bisa ditanam sekali, di sawah padi bisa ditanam dua kali dalam setahun.

Sekolah Lapangan

Aktifitas petani Desa Hewa dalam Sekolah Lapangan Biointensive Pertanian yang diselenggarakan Pemdes Hewa, Ayu Tani, KRKP dan PT. WiSH Indonesia (Foto: Istimewa)

Beruntung di Flotim ada Ayu Tani, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang aktif mengadvokasi petani. Ayu Tani menginisiasi upaya optimalisasi sawah di Hewa. Bermitra dengan Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) dam PT.WiSH Indonesia, dibukalah Sekolah Lapangan Biointensive Pertanian untuk petani di Desa Hewa.

Tujuannya Sekolah Lapangan adalah mendampingi dan memfasilitasi kelompok tani yang sudah mulai beralih dari lahan kering ke lahan sawah untuk perluasan lahan, pengembangan, produktivitas padi dan pemasaran bersama.

Pemerintah Desa turut mengambil peran melalui Bumdes Hewa.

Sekolah Lapangan Biointensive Pertanian berlangsung sejak Februari 2020 lalu. Petani dari Poktan Ri’i Anak dan poktan Rinjani mendapatkan kesempatan untuk belajar bersama. Di sawah percontohan, mereka menanam tiga jenis bibit padi yakni Galur 88, IF 8, dan IF 17.

Tiga jenis padi ini ini lalu ditanam berdampingan dengan varietas padi lokal.  Hasil dari uji coba dengan menggunakan pupuk hayati yang disediakan oleh PT WiSH Indonesia ternyata menghasilkan bulir padi yang berlimpah

Sirilus Jilu, petani berusia (62), mewakili para petani menjelaskan ada perubahan yang berarti bagi warga di desanya karena kerja kemitraan ini.

“Pada waktu awal sampai dengan berjalan pada tahun 2019 itu juga belum banyak petani yang masuk menggarap di sawah. Bisa jadi karena soal sumber daya manusia sesama kami yang beralih dari lahan kering ke lahan basah itu. Jadi ketika kami mulai masuk ke sawah terus ada pendampingan dari KRKP Bogor, Ayu Tani dan PT Wish pada tahun 2020 ini semakin menguatkan semangat kami untuk mantap bertani,” sambungnya.

Pasca mengikuti sekolah lapangan, mereka mendapatkan pengetahuan yang dikolaborasikan dengan kearifan lokal. Selain itu, mereka bisa menghasilkan sendiri benih untuk ditanami di musim tanam berikut.

Direktur Ayu Tani, Thomas Uran mengemukakan produk beras organik yang dihasilkan oleh para petani di Desa Hewa jelas membantu 1.400-an jiwa penduduk Desa Hewa.

“Saat ini petani Hewa sangat bergantung pada harga jual mete, karena memang desa ini juga penghasil mete tetapi panen mete semakin menurun dari waktu ke waktu. Praktis kebun mete 1 hektare belum tentu menghasilkan sampai 500 kg mete gelondong. Bisa dibayangkan penghasilan per KK tani dari mete. Untuk itu pasar beras ini solusi demi menambah penghasilan petani,” terang Thomas.

Sebelumnya, kata Thomas, jarak petani produsen padi/beras dengan konsumen sangat jauh. Konsumen tidak tahu perilaku produsen padi saat produksi. Sehat atau tidak.