Memahami Kesadaran Palsu Guru Honorer yang Tertindas

Bagikan!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Gambar: Kopong Bunga Lamawuran (Foto: Dok. Pribadi)

Siapapun yang secara sambil lalu melihat fenomena ketertindasan guru honorer di Nusa Tenggara Timur, akan menohok dirinya dengan satu pertanyaan sederhana ini: mengapa dengan begitu kecilnya honor yang diterima, dan begitu besarnya ketidakadilan yang dialami para guru honorer, mereka tidak bisa bersuara?

Ini menjadi pertanyaan yang penting, karena ternyata ada hal-hal prinsip yang sepertinya disalahgunakan oleh pihak penyelenggara pendidikan, dan mengakibatkan kebungkaman yang seperti kita herankan saat ini.

Untuk tidak sekedar berkoar-koar soal nasib para guru honorer ini, baik pula digambarkan sekilas beberapa fakta yang ditemui di lapangan. Di SMPN 9 Amabi Oefeto Timur, ada 12 guru honorer (tahun 2018) yang mengabdi dengan penuh tanggung jawab dan menerima upah Rp. 25.000,00 sebulan. Upah ini bagi saya merupakan paling kecil di antara semua keluhan guru honorer selama ini. Di pinggiran Kota Kupang, ada guru perempuan yang mengabdi di SD Kristen Kuasaet, dan mendapat upah Rp. 150.000,00 sebulan. Untuk menyambung hidup, dia sepulang sekolah harus mencari uang sampingan dengan berjualan apa adanya.

Di Kabupaten Flores Timur, ada guru-guru honorer yang mengabdi di SDN Oring Bele Gunung dengan upah Rp. 300.000,00 sebulan. Di Kabupaten Sikka, ada juga guru-guru yang mengabdi dengan upah Rp. 85.000,00 sebulan. Tentu data-data ini bervariasi, dan berubah-ubah, tapi begitulah kondisi yang pernah terjadi dan kemungkinan belum berubah.

Buramnya lagi, kesialan dalam hidup ini tak hanya menyangkut kecilnya upah yang diperoleh. Karena sistem pembayarannya melalui dana BOS, maka mereka pun sering kali mendapat upah itu tiga, empat, bahkan lima bulan sekali. Di tempat lain di Indonesia, upah ini bahkan dibayar setahun sekali.

Maka kemudian kita perlu bertanya lagi: dengan upah sedemikan, mengapa tidak ada perlawanan dari pihak guru honorer sendiri, untuk memperjuangkan hidupnya? Dan tulisan ini hanya akan membicarakan satu elan, prinsip hidup, yang saya yakin berperan besar dalam membentuk situasi ketidakadilan tanpa perlawanan ini. Karena itu, tulisan singkat ini hanya akan membahas satu prinsip hidup pada masyarakat Lamaholot (Flores Timur).

Aksi protes guru honor (Foto: Istimewa)

Di Kabupaten Flores Timur, harusnya gerakan-gerakan literasi sudah sampai pada penyadaran dari tiap elemen, salah satunya guru honorer, untuk melihat situasi yang menimpah diri mereka. Memang saat ini kita tidak bisa berharap banyak kepada Agupena Flotim! Karena hampir jelas, organisasi guru penulis ini hadir untuk melemahkan perjuangan para guru honorer, dan membuat kabur situasi ketidakadilan guru honorer di Flores Timur. Hanya merekalah yang berpikir bahwa semua hal yang terjadi sekarang baik adanya, tak ada masalah, sehingga mereka tetap saja menjadi corong dan menyeruhkan kepada semua guru honorer untuk mengabdi dengan sebaik-baiknya.

Untuk membicarakan persoalan ini, saya kira sangat relevan kalau kita mengaitkan dengan sebuah elan yang selalu membayangi sepak terjang setiap orang di Flores Timur atau Lamaholot: gelekat lewo. Prinsip hidup ini secara sederhana dapat diurai seperti ini: seorang merantau selain untuk menghidupi keluarganya, tapi juga untuk gelekat lewo. Seorang dosen mengajar selain untuk mendapat upah, tapi juga untuk gelekat lewo. Seorang melakukan apa saja pekerjaan, selagi itu baik, adalah untuk gelekat lewo. Dan seorang guru mengajar selain untuk mendapat upah, tapi juga untuk gelekat lewo. Gelekat lewo ini bisa diartikan sebagai sebuah elan untuk membangun dan mengharumkan nama kampung halamannya. Secara harfiah, gelekat adalah ikut terlibat membangun, dan lewo adalah kampung halaman.

Secara umum, ada lima prinsip hidup masyarakat Lamaholot yang digambarkan Profesor Felysianus Sanga dalam Monografi Lamaholot, yaitu keselamatan (Atadiken welin-welin), kekeluargaan (kayo puken-wai matan, puken ta’a-lolon mege), kerja sama (tulun tali-ba’at klea, pohe gelekat), kecukupan hidup (tenu tekan tewaro – tekan bohu tenu seba), dan kedamaian (to’on ata wahan kae me’lan senaren). Karena hal-hal ini adalah prinsip hidup pada masyarakat Lamaholot (Flores Timur), maka gelekat lewo (kita bisa masukkan ini dalam prinsip hidup kerja sama) pun pastinya mengurat akar dalam benak kehidupan masyarakat bersangkutan.

Dalam praktek-praktek kerja sekarang, pihak pemerintah ataupun sekolah (tentu saja, termasuk juga Agupena Flotim) sepertinya menggunakan prinsip hidup ini untuk menindas para guru honorer. Karena itu, pernyataan berbau penindasan yang kerap didengar dari pihak sekolah kepada guru honorer perlu kita ulang kembali: “Gaji kecil juga tidak mengapa, yang penting gelekat lewo!” Dan karena prinsip hidup ini telah mengurat akar, kemungkinan besar sang calon guru tersebut akan menerima tawaran itu.

Apa yang terbayang kemudian di benak calon guru adalah sebuah impian untuk berbuat sesuatu yang baik untuk kampung halamannya, merasa diri akan berguna di tengah segala kekurangan hidup. Seperti seorang yang sangat idealis yang merasa uang bukanlah segala-galanya, sang calon guru kemudian mengasosiakan diri dengan sebuah gerakan mengusung nilai yang luhur, yang kepada titik itulah segala sepak terjang orang Lamaholot diarahkan. Dengan ini kita juga bisa memahami bahwa kebaikan yang dimaksud adalah sebuah tindakan kebaikan yang lebih dominan kepada orang lain, bukan kepada diri sendiri. Dan ini kita pahami sebagai satu nilai pengorbanan.

Karena itu, akan menjadi sulit untuk dipahami jika situasi kebungkaman ini kita sandingkan dengan sebuah prinsip hidup lain lagi, misalnya “koda”. Orang Lamaholot meyakini bahwa hidup dan mati seseorang karena koda, terbukti dengan ungkapan “Matanet di koda, moripet di koda.” Koda boleh diartikan dengan sabda. Dan di atas pijakan koda ini, orang Lamaholot mulai memberikan putusan, apakah dia bertindak atau tidak. Jika dia merasa koda-nya benar, maka dia akan bertindak atau melawan atau berperang dan lain sebagainya. Jika koda-nya salah, dia harusnya mengalah. Inilah perhitungan dalam sebuah perjuangan yang selalu dihayati oleh orang Lamaholot.

Dari uraian singkat ini, kita akan memahami satu situasi yang kontradiktif: situasi keterpurukan dalam ketidakadilan (penyalagunaan prinsip gelekat lewo) dan koda. Mengapa di tengah situasi ketidakadilan ini, orang-orang tidak bisa memberontak, padahal dari sisi koda, dia berada di jalur yang benar? Padahal, dia memiliki sesuatu yang benar, sebuah nilai yang baik, keadilan, untuk diperjuangkan! Tetapi mengapa justru tidak ada perlawanan?

Saya tetap berpendapat bahwa ada penyalagunaan prinsip hidup gelekat lewo seperti yang diuraikan di atas. Pihak sekolah telah mengubah sudut pandang situasi ketidakadilan ini, bukan lagi sebagai sesuatu yang diperjuangkan (koda) tapi lebih pada pengorbanan (gelekat). Dan justru di sinilah letak kesalahannya, karena satu situasi ketidakadilan adalah sesuatu yang harus dilawan, bukan untuk dinikmati dalam bentuk pengorbanan-pengorbanan!

Betapa prinsip hidup yang baik ini kemudian digunakan oleh pihak sekolah untuk menindas para guru honorer, yang karena ingin sekali bekerja dan menggelakat, terpaksa menerima pekerjaan itu dengan upah Rp. 300.000,00 sebulan. Nilai ini tentu sangat jauh dari upah minimum, dan tentu membayar para guru dengan gaji di bawah standar adalah kesalahan pihak penyelenggara pendidikan, tapi kemudian mereka menggunakan sebuah perangkat nilai dalam masyarakat untuk mengelabuhi para guru yang mengajar tersebut.

Prinsip hidup ini kemudian dijadikan hanya sekedar tameng untuk menutupi segala kekurangan dari pihak pemerintah dan sekolah, dan kemudian membentuk apa yang disebut sebagai kesadaran palsu para guru honorer.

Kesadaran palsu ini kemudian membuat sebagian besar guru honorer tidak bisa lagi objektif melihat kondisinya sendiri. Mereka tidak bisa lagi melihat bahwa mengajar pun butuh asupan buku, upah, dan penghargaan yang sewajarnya dari pemerintah ataupun sekolah, yang dalam prinsip hidup masyarakat lamaholot disebut sebagai tenu tekan tewaro – tekan bohu tenu seba (kecukupan hidup)! Mereka tidak bisa memperjuangkan ketidakadilan yang menderah mereka, juga prinsip hidup itu, karena pihak sekolah telah membentengi segala kekurangan mereka dengan prinsip hidup gelekat lewo ini.

Inilah kesalahan fatal yang terus-menerus dilakukan, apalagi didukung dengan agitasi-agitasi yang dilakukan oleh Agupena Flotim lewat tulisannya, maka makin besarlah kesadaran palsu yang timbul dalam elemen guru honorer. Dampak dari kesadaran palsu semacam ini pun sangat besar bagi pendidikan. Dengan tetap memosisikan diri dalam kubang sekarang, artinya tetap mengajar dengan upah yang kecil dari sekolah, akan menambah kacau situasi pendidikan. Tentu saya tidak meragukan kemampuan mengajar para guru honorer. Tetapi dengan upah yang sangat kecil, bahkan lebih kecil dari harga sebuah buku, bagaimana kita bisa menata masa depan pendidikan kita ke arah lebih baik? Memang perlu ada pembedaan secara jelas, bahwa gelekat lewo adalah sebuah semangat dalam menjalankan satu pekerjaan, dan tidak boleh dicampuradukkan dengan upah. Upah yang wajar adalah hak yang harus diterima semua guru honorer.

Memperjuangkan kesejahteraan guru honorer, adalah berjuang juga untuk masa depan pendidikan. Sama halnya kita harus maju karena koda kita benar. Dan ini tidak bisa dilakuan pihak lain, Agupena Flotim misalnya. Organsiasi ini jelas-jelas tidak akan (sejauh ini) memperjuangkan nasib para guru honorer. Karena itu, yang harus berjuang adalah guru honorer itu sendiri. Para guru honorer yang harus lebih dahulu memahami kondisinya, apa yang sedang dialaminya, dan dengan apa saja, melakukan perjuangan. Bagi saya, memperjuangkan hal ini juga adalah salah satu bentuk gelekat lewo!

Para guru honorer sendirilah yang harus bersuara, sejauh pemahaman terhadap kondisi ini telah diresapi. Karena sangat membosankan apabila dalam tiap kesempatan, hanya kegiatan dan tulisan Agupena Flotim yang dipublish dan disebarluaskan, seolah-olah literasi itu hanya sekedar berpuisi dan menulis hal-hal yang baik-baik saja!

Terlepas bahwa nanti memang perlu dibentuk sebuah perhimpunan guru honorer dengan segala instrumen untuk memperjuangkan nasib guru honorer, tapi paling penting adalah pembentukan kesadaran pada diri guru honorer untuk melihat situasi ini secara jernih, agar setiap tindakan memiliki dasar yang kuat. Harus ada semangat kemerdekaan pada diri guru honorer untuk mengambil langkah dalam situasi ini, untuk bersuara, bertindak, karena itu adalah kebutuhan. Dasar dari itu adalah satu pemahaman, bahwa saat ini, guru honorer berada dalam situasi ketidakadilan. Dan siapa yang suka dengan ketidakadilan?