Mo’at Tadeus dan Nyiru Bambu

Bagikan!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

lingkar-desa.com,- bambu menjadi primadona dicera industri kreatif. Banyak produk kerajinan berbahan dasar bambu dibuat mulai dari jam tangan sampai topi bahkan sepeda.

Tidak hanya itu, meningkatnya industri kreatif berbahan dasar bambu ini seiring dengan pertumbuhan komunitas-komunitas yang konsern pada budidaya, pemanfaatan dan pengolahan bambu sebut saja Akademi Bambu Nusantara dan lain-lain.

Nun jauh dari hiruk-pikuk pertumbuhan industri pengolahan bambu, ada seorang kakek asal Desa Tekaiku, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka yang menyandarkan hidup dari bambu. Namanya, Yoseph Tadeus. Saat ini usianya 66 tahun. Ia tinggal bersama sang istri, Juliana Nona di RT 16/RW 02 Desa Tekaiku. Sejak beberapa tahun belakangan, Mo’at Tadeus menggeluti usaha menganyam nyiru dari bambu.

Nyiru adalah alat rumah tangga yang digunakan untuk menampi beras dan sebagaianya. Nyiru paling mudah ditemukan di dapur setiap rumah. Artinya, tidak ada rumah tangga yang tidak membutuhkan nyiru.

Selain nyiru dari bambu, belakangan banyak beredar di pasar-pasar nyiru pabrikan yang terbuat dari plastik.

Warisan Leluhur

“Saya percaya masih banyak orang yang berminat dengan nyiru anyaman bambu,” ungkap Mo’at Tadeus saat ditemui di kediamannya beberapa waktu lalu.

Keterampilan menganyam nyiru tersebut dipelajari dari Kakeknya, bernama Mo’an Rana. Almarhum kakeknya tersebut adalah penganyam bambu yang handal di kampung. Bukan hanya nyiru, Mo’an Rana juga mahir mengayam gedek.

Kala itu, nyiru yang dianyam biasanya dibawa ke pasar untuk dijual atau ditukar dengan makanan.

“Saya belajar dari Mo’an Rana saat saya muda. Awalnya untuk keperluan di rumah saja. Lalu, karena ada permintaan-permintaan dari tetangga dan orang lain saya akhirnya terus mengayam,” terangnya.

Biasanya bambu untuk bahan pembuatan nyiru diambil dari kebunnya. Bambu yang digunakan adalah bambu yang berusia satu tahun. Tujuannya agar lebih mudah dibentuk dan tidak kaku.

Batang bambu yang telah dipotong akan dibagi dalam potongan-potongan kecil berukuran 50 cm. Selanjutnya, potongan kecil bambu tadi dibelah seukuran besi 8 milimeter. Tidak hanya sampai disitu, potongan kecil bambu tersebut lantas dibelah lagi menjadi ukuran yang lebih tipis dan diambil kulit luarnya. Baru setelah itu nyiru mulai dianyam.

Bila telah jadi nyiru hasil kerjanya akan dijual langsung ke pasar-pasar tradisional di Sikka seperti Pasar Wairkoja dan Pasar Alok atau pun diambil langsung pemesan di rumah.

Selain nyiru, Tadeus mengaku bisa menganyam gedek. Akan tetapi, jarang ada pemesanan gedek. lagi pula pengerjaannya agak sulit.

“Kalau anyam gedek butuh banyak bambu dan banyak tenaga serta waktu. Saya sendirian saja hanya dibantu istri,” tandasnya.

Menguntungkan

Sehari-harinya Tadeus bertani. Ia mengolah beberapa kebun miliknya. Selain beberapa pohon mente dan kelapa yang hasilnya tak seberapa, setiap tahun kebun-kebun tersebut hanya ditanami palawija seperti jagung, umbi-umbian dan kacang-kacanganan.

Hasil kebun tidak seberapa, paling banter untuk makan sehari-hari saja padahal ada kebutuhan lain yang hanya bisa didapatkan dengan uang. Inilah alasan Tadeus lantas fokus membuat nyiru.

Tak terhitung ribuan nyiru telah dibuatnya dan tersebar seantero Sikka. Nyiru hasil kerjanya biasanya dijual dengan kisaran harga Rp 30.000 sampai dengan Rp 50.000 tergantung ukuran. Nyiru hasil kerjanya diminati karena bertahan lama bisa 3-4 tahun.

Dari menganyam nyiru, setiap bulannya dia mendapat rata-rata Rp 500.000. Jumlah ini tentu tak seberapa namun sangat berguna bagi pemenuhan kebutuhan hidup bersama sang istri. Pendapatan dari hasil membuat nyiru tersebut menutupi kekurangan keluarga kecilnya ketika hasil kebun tak menentu dan harga komoditi anjlok.

Menurut dia, ada banyak bambu di kampung-kampung dalam wilayah Desa Tekaiku. Sayangnya, belum diolah dengan baik. hasmpoir di setiap kebun warga, ada tanaman bambu yang telah tumbuh secara alami dari dahulu kala.

“Biasanya batang bambu dijual gelondongan atau dijadikan pelupu lalu dijual,” terangnya.

Dia berharap, ke depannya anak-anak muda di Desa Tekaiku mau belajar mengolah bambu menjadi kerajinan yang bernilai ekonomi.

“Kalau saya hanya bisa bikin nyiru. Saya mau ke depan ada anak muda yang bisa buat yang lain karena kalau tidak bambu yang ada di kebun-kebun hanya terbuang sia-sia,” ungkap Tadeus menutup perbincangan kala itu. * * *

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *