Petani Sikka Gunakan ‘Irigasi Bambu’ Untuk Jaga Tanaman Di Musim Kemarau

Bagikan!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Instalasi sederhana dari bambu sebagai penyedia air untuk tanaman yang digunakan oleh Kelompok Tani Obor Sodang (Foto: Istimewa)

lingkar-desa.com- Musim kemarau adalah ancaman bagi petani. Tingginya suhu berpengaruh terhadap tanaman dan debit mata air.  Hal ini dirasakan pula oleh para petani di Desa, Nenbura, Kabupaten Sikka. Tanaman komoditi yang baru ditanam terancam mati.

Akan tetapi, mereka telah menemukan cara untuk menjaga tanaman di musim kemarau.

“Kami di gunung jadi kami gunakan apa yang ada di sekitar kami. Ada bambu yah kami pakai bambu,” ungkap Ketua Kelompok Tani Obor Sodang, Mus Muliadi pada Rabu (19/8/2020).

Mus dan rekan-rekannnya menyebut metode yang mereka gunakan dengan nama ‘irigasi bambu’. 

Bermodal bambu, batang gamal dan tali dari tanaman menjalar di hutan jadilah serta sedikit air, jadilah alat penjaga tanaman agar tetap basah.

Bambu dipotong minimal 1 m. Lalu dilubangi pada salah satu sisi di bagian di atas ruas yang dibiarkan sebagai dasar.

Bambu lantas diikat pada tiang dari batang yang ditanam dekat tanaman. Satu tiang pendek dijadikan penopang bambu.

Untuk mengikat bambu mereka gunakan tanaman menjalar di hutan yang dikenal dengan nama ‘tali lebo’ dalam bahasa lokal. Bisa juga menggunakan bahan lain seperti potongan ban dalam kendaraan.

Panjang bambu berpengaruh menentukan jumlah air yang dapat ditampung. Sementara diameter bambu mempengaruhi penguapan air tampungan.

Tanaman coklat, cengkeh dan kopi yang masih muda cukup terlindungi dengan perlengkapan sederhana tersebut. Dengan cara tersebut mereka tak harus menyiram tanaman setiap hari.

“Tidak ada biaya yang dikeluarkan. Ini hanya butuh tenaga,” ungkap Mus.

Menurutnya, model ini sebenarnya sudah lama diterapkan di Sikka. Beberapa tempat petani menggunakan botol bekas.

“Kita harus bisa memanfaatkan apa yang ada di sekitar kita. Semua hal bisa digunakan asal kita mau mencoba dan terus belajar,” tandas Mus.

Secara bergotong royong mereka telah memasang instalasi bambu tersebut di kebun setiap anggota kelompok. Sementara itu, untuk melindungi mata air sementara ini mereka sedang menyiapkan sejumlah bibit tanaman. Rencananya tanaman tersebut akan ditanami di sekitar mata air dan di kawasan hutan.