Pulang Kampung, Yunita Kembangkan Usaha Makanan Olahan Ikan

Bagikan!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Yunita di lapak Bakso Ikan miliknya yang terletak di Kolisoro, Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda, Sikka

lingkar-desa.com- Mendapatkan pekerjaan yang baik tidak harus di perantauan. Ada banyak peluang usaha di kampung halaman tergantung kejelian setiap orang membaca potensi dan kreatif mengelolanya.

Inilah yang dilakukan Yunita (32) asal Kolisoro, Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda, Sikka. Lulusan STKIP YPUP Makasar ini memilih berjualan bakso ikan di kampung halamannya yang terletak di perbatasan Sikka dan Ende. Ia menyulap teras rumah menjadi lapak bakso ikan sederhana.

“Hampir setahun ini kami buka. Pelanggannya warga kampung sini. Ada juga dari Kota Baru, Ende,” ungkapnya pada Selasa (26/1/2021) lalu di kediamannya di Kolisoro.

Tepatnya, pada Mei 2020 di tengah pandemi 2020 Yunita mulai membuka lapak bakso ikan. Pandemi COVID 19 memaksa mereka pulang kampung.

Berjualan bakso ikan atau pun makanan olahan ikan bukan lah hal baru baginya. Sebelumnya, mereka tinggal di Maumere. Di sana Ia sudah berjualan bakso ikan dan aneka olahan ikan lainnya. Bedanya Ia tak membuka lapak. Hasil olahan dijual secara online atau pun offline langsung ke pelanggan.

“Saya biasanya antar ke kantor-kantor tetapi karena Covid ini jadi kami dilarang,” terangnya.

Rasa bakso ikan buatan Yunita sangat khas dan nikmat. Harganya pun sangat murah yakni hanya Rp 5000 untuk setiap porsi. Tak mengherankan bila warga kabupaten tetangga pun harus menyeberangi perbatasan demi merasakan bakso ikan ala Yunita. Bukan hanya ikan mentah, Ia juga membuat pentolan dari ikan teri.

Semua dikerjakannya sendiri. Sesekali, sang suami, Denitrius Nurak (37) membantunya bila tak ada kesibukan di kebun.

Bukan hanya bakso, Yunita juga bisa membuat menu olahan ikan lainnya seperti nuget ikan dan abon ikan. Selain itu Ia juga bisa membuat aneka menu berbahan kelor.

“Kalau ada yang pesan atau mau datang makan saya akan buatkan,” tandasnya.

Meski banyak peminat setiap harinya Yunita enggan menyiapkan dalam jumlah banyak. Ia hanya membuat pentolan secukupnya. Ikan tak sulit didapat meski pada waktu tertentu relatif mahal. Pasalnya, Kolisoro atau pun Reroroja pada umumnya terletak di pesisir Pantai Utara Flores. Banyak nelayan yang membongkar hasil tangkapan setiap harinya di Koro dan Ndete.

“Harus jaga kualitas ikan. Saya beli ikan secukupnya setiap hari dan buat pentolan juga tidak banyak,” ungkapnya.

Ini sengaja dilakukan lantaran bakso ikan tak bagus bila disimpan lama. Berdeda dengan pentolan bakso dari daging, pentolan bakso ikan akan jadi lembek bila lebih dari sehari.

Menariknya, Yunita menuturkan warna pentolan bakso ikan tergantung pada jenis ikan yang digunakan sebagai bahan dasar. Bila pentolan dibuat dari ikan tongkol maka pentolan memiliki warna sama seperti warna pentolan daging. Bila menggunakan ikan merah atau ikan tenggiri maka pentolan berwarna putih sama seperti bila menggunakan ikan tuna. Sebaliknya pentolan akan berwarna hitam bila menggunakan ikan teri.

Mau Berbagi Ilmu

Bakso ikan olahan Yunita

Baginya tak sulit membuat bakso ikan. Dibandingkan daging, bakso ikan lebih cepat dan lebih mudah dibuat. Tidak harus digiling seperti daging, ikan bisa dihaluskan dengan menggunakan blender.

Modal untuk membuka usaha bakso ikan pun tak besar-besar amat. Hanya perlu menyiapkan Rp 1.000.000 sudah bisa memiliki usaha penjualan bakso ikan. Tentu untuk usaha kelas rumahan belum membutuhkan banyak tenaga. Selain itu, biaya bisa ditekan tanpa ada biaya sewa tempat jika menggunakan rumah sendiri.

Yang terpenting adalah memiliki keterampilan membuat bakso ikan.

Perlu diketahui sebelum kembali ke Maumere, Yunita dan suami bermukim di Lembata lantaran suaminya bekerja di sana kala itu. Pengetahuan mengolah anekeolahan ikan pun bermula dari Lembata. Ia belajar secara otodidak.

Awalnya Ia berjualan bubur kacang. Lantas dalam suatau kesempatan Ia membantu membuat bakso dari ikan teri untuk ibu-ibu yang hendak mengikuti lomba. Sejak saat itu Ia menekunim usaha pembuatan bakso ikan.

Dari pengalaman hidupnya tersebut Yunita mengaku bersedia berbagi pengetahuan dengan ibu-ibu atau pun anak muda yang hendak belajar agar bisa membuka usaha di kampung masing-masing.

“Cukup datang bawa dengan bahan-bahan lalu kita langsung praktik di rumah,” ujarnya.