Ritual ‘Joka Ju’ Oleh Masyarakat Adat Wolotolo

Bagikan!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

lingkar-desa.com- Pada Rabu (8/4/2020) lalu, Masyarakat Adat Wolotolo, Ende menggelar ritual ‘Joka Ju’. Ritual yang diprakarsai oleh Kades Wolotolo, Sylvester Soba bersama Kades Wolotolo Tengah dan Kades Randoria serta para mosalaki tersebut dimaksudkan sebagai ‘tolak bala’ atas wabah COVID 19.

“Joka tu” adalah acara adat yang dibuat untuk menolak hal-hal buruk atau hal yang mendatangkan malapetaka bagi kehidupan “fai walu ana kalo” (masyarakat adat) seperti wabah penyakit.

Acara adat tolak bala ini sudah ada dan sering dilakukan oleh nenek moyang sejak zaman dahulu kala. ‘Pire te’u’ atau ritual tolak hama tikus adalah model  yang sama dengan acara adat ‘joka tu’ atau ‘turi’.

Masyarakat Adat Wolotolo meyakini bahwa “Embu Mamo, Tana Watu, Du’a Ngga’e” atau arwah leluhur dan penguasa bumi adalah suatu kekuatan lain yang mampu menolong manusia dalam ketidakberdayaan mereka dari pandemi COVID 19.

Ritual “joka tu atau turi’ dipimpin oleh tetua adat yang disebut Mosalaki. Tahap awal adalah persiapan ritual yakni menyiapkan beberapa sarana dan bahan seperti sampan kecil, replika emas ‘wea’ dan ‘londa’ atau kalung emas yang dianyam dari daun kelapa. Selain itu dibutuhkan juga seekor ayam jantan merah dan nasi putih.

Setelah semua dipersiapkan, mosalaki pu’u embu goro guta dan embu embu lain akan turun ke “koja kanga” atau tempat ritual yang berada di Nua Pu’u Wolotolo Wawo. D tempat itulah mereka memberi sesajen kepada arwah leluhur dan penguasa bumi sembari memiunta berkat dan perlindungan terhadap seluruh anggota komunitas dalam wilayah ulayat.

Selanjutnya, Mosalaki dan para embu beserta anggota komunitas adat yang hadir berjalan mengelilingi ulayat dan semua kampung yang berada di dalamnya. Total terdapat 7 ‘kopo kasa’ atau kampung. 

Ritual keliling kampung ini dipimpin oleh seorang penabuh gong dan diikuti tetua adat dan peserta lainnya satu per satu membentuk barisan panjang.

Perjalanan mengelilingi kampung-kampung tersebut berakhir di batasa barat wilayah ulayat. Disana, tetua adat menghanyutkan miniatur perahu sebagai pertanda penyerahan kembali wabah corona kepada alam.

Usai pelepasan miniatur perahu, tetua adat dan peserta lainnya membalikkan badan dan pulang tanpa boleh menoleh ke belakang. 

Selanjutnya, anggota komunitas menjalani ‘pire’ atau pantangan untuk masuk atau keluar kampung serta tidak melakukan rutinitas seperti biasanya atau tetap tenang di rumah.

Para tetua adat yang memimpin ritual ‘Joka Ju’
(Foto: Apolinaris Kapo)
Proses pemberian sesajen berupa ayam jantan merah dan nasi putih di ‘Koja Kanga’
(Foto: Apolinaris Kapo)
Tetua adat dan peserta berjalan mengelilingi kampung-kampung
(Foto: Apolinaris Kapo)
Pelepasan miniatur perahu di kali batas ulayat
(Foto: Apolinaris Kapo)
Perjalanan kembali ke kampung dan rumah masing-masing
(Foto: Apolinaris Kapo)