Warga Besipae Rela Makan Sekali Sehari demi Jaga Hutan Adat

Bagikan!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Masyarakat Adat Pubabu, TTS memilih mempertahanakan tanah ulayatnya dengan berada di lokasi meski berulang kali ‘diusir’ Pemprov NTT (Foto: Kopong Bunga Lamawuran)

lingkar-desa.com- Di kelilingi pohon-pohon gamal meranggas, warga adat Pubabu/Besipae membangun tempat tidur darurat berdinding daun lontar di sebuah tanah lapang. Beberapa tiang kayu dipancang, dan daun-daun lontar didirikan mengelilinginya, sehingga tampak seperti lopo darurat.

Hampir dua minggu mereka telah bertahan di lokasi Hutan Adat Pubabu, yang terletak persis di pinggir jalan Jalur Selatan Pulau Timor, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Rumah-rumah mereka telah digusur, sehingga kini sejumlah keluarga tidak memiliki rumah tinggal.

Di pinggir jalan raya itu, mereka menggelar terpal biru agar bisa duduk dan berbaring. Tak jauh dari terpal biru, ada beragam bahan yang ditumpukkan begitu saja: tas kulit, tas kain, karung beras, gardus, juga karung berisi pakaian. Sejumlah bahan makanan mereka telah dirampas, sehingga kini mereka sangat kesusahan, bahkan hanya sekedar mengisi perut dalam sehari.

“Kami di sini makan satu kali sehari. Karena bahan-bahan makanan kami telah dirampas. Kami rela berada di sini dengan satu tujuan. Kembalikan hak kami atas Hutan Adat Pubabu,” kata Ester Selan (39), Senin (17/8/20200).

Ester berkata, sampai dengan saat ini, pemerintah telah menggusur 29 rumah warga. Warga diminta untuk keluar dari hutan adat itu, lalu menempati rumah relokasi yang telah disiapkan pemerintah.

Tetapi dirinya merasa warga diperlakukan sangat tidak manusiawi. Rumah-rumah yang telah dibangun pemerintah itu hanya berukuran 3 m x 4 m.

“Pemerintah relokasikan satu rumah ukuran 3 m x 4 meter untuk tiga keluarga. Barang-barang dari setiap keluarga itu sangat banyak dan bertumpukan, sehingga setengah mati untuk tidur. Karena, tiap keluarga punya anggota yang banyak. Ada kk beranggotakan 5 orang, satu lagi 7 orang, dan lainnya 9 orang,” ujarnya.

Ester menerangkan, pada tanggal 4 Agustus 2020, pihak pemerintah Provinsi datang dan melakukan diskusi dengan mereka. Tapi tidak ada jalan keluar. Walau begitu, mereka terpaksa digusur. Selain rumah warga, pemerintah juga menggusur tempat pertemuan warga.

“Kami tidak menentang program pemerintah. Kami hanya menuntut hak kami. Mereka rubuhkan rumah-rumah kami, juga rumah pertemuan kami,” katanya.

Sebenarnya, apa yang sedang dilakukan warga Adat Pubabu ini adalah perjuangan untuk mempertahankan Hutan Adat Pubabu, agar tidak rusak oleh aktivitas-aktivitas yang dilakukan pihak lain, termasuk pemerintah. Karena selama ini, hutan adat yang mereka jaga itu telah rusak akibat pembabatan dan pembakaran hutan adat seluas kurang lebih 1050 Ha oleh Dinas Kehutanan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Akibatnya, hutan jadi gundul, dan sejumlah sumur di tempat itu menjadi kering.

Anak-anak Diterlantarkan

Situasi yang terjadi saat ini sangat merugikan warga adat Besipae ini sangat merugikan, terutama anak-anak dan ibu hamil. Di lokasi ini, ada sekitar 50 anak-anak, dua orang ibu hamil, dan tiga orang bayi. Ketiga bayi itu masing-masing berumur 2 bulan, 3 bulan, dan 7 bulan.

Kondisi ini mengundang perhatian dari banyak pihak. Salah satunya adalah Aliansi Solidaritas Peduli Besipae (ASAB). ASAB telah melakukan sejumlah aksi untuk membantu warga Besipae yang mendapatkan perlakuan tidak adil dari pemerintah Provinsi NTT.

“Saya ingin kekerasan yang terjadi saat ini dihentikan. Karena saat ini anak-anak sangat terganggu,” kata Adelia, seorang perwakilan ASAB.

Adelia menjelaskan, anak-anaklah yang mendapatkan dampak paling besar. Mereka ketakutan, dan tidak bisa melanjutkan sekolah seperti biasa.

“Anak-anak yang menamatkan pendidikan di PAUD tidak bisa melanjutkan ke sekolah dasar karena ijasahnya ditahan,” tuturnya.

Selain itu, pakaian seragam sejumlah anak juga diambil sehingga tidak bisa sekolah. “Kita bisa lihat sendiri situasi saat ini. Anak-anak yang saat ini haknya adalah bermain, tidak kelaparan, tapi sekarang kebingungan. Makan satu kali sehari. Apalagi sekarang ini musim panas. Malam pasti dingin sekali. Anak saya yang tidur pakai selimut, ada tembok dan atap rumah, itu saja masih rasa kedinginan. Apalagi anak-anak di sini, yang tidur beralas tikar beratap langit,” katanya.

Setiap perseteruan yang terjadi, tidak bisa dijadikan alasan untuk membenarkan perbuatan pengabaian perlindungan terhadap anak-anak. “Yang saya mau, apapun kepentingannya, anak-anak jangan diganggu,” katanya.