Hidup Berlanjut Dari Kolam Bandeng

Bagikan!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Yosef Lagaribu dan ayahnya, Agustinus Tokek sedang memberi makan ikan bandeng peliharaan (Foto: Are de Peskim)

lingkar-desa.com- Desa Lewomada, Kecamatan Talibura, Sikka terletak di pesisir utara Flores, tepat di perbatasan Sikka dan Flores Timur. Butuh waktu 2 jam lebih bila berkendara dari Maumere ke Lewomada.

Selain jarak, kondisi jalan yang buruk membuat perjalanan ke Lewomada jadi makin sulit. Pasalnya, jalan rusak belasan km dari Henga sampai Bokang. Akibatnya, selama musim hujan air menggenangi jalan. Bahkan salah satu ruas jalan yang tepat berada di pinggir pantai terancam putus dihantam ombak.

Meski demikian, tak berarti Lewomada tak punya hal menarik. Belum lama ini, Pemdes Lewomada meresmikan pembukaan Pantai Hi’a sebagai destinasi wisata. Hi’a ikonik dengan pantai berpasir putih dan laut yang kaya akan ikan.

Ada hal lain yang tak kalah menarik di Hi’a namun terlupakan yakni Yosef Lagaribu dan kolam ikan bandeng miliknya.

Tepat di pinggir jalan, di depan lokasi wisata Hi’a Beach terdapat sebuah genangan besar. Air lumpur berwarna coklat pekat hampir memenuhi kolam berukuran 20×12 m dengan kedalaman 1,5 m. Itulah kolam bandeng milik Yosep Lagaribu, pemuda Kampung Hi’a, Desa Lewomada.

Pemuda 24 tahun ini sedang merintis usaha budi daya ikan bandeng. Ini adalah kolam pertamanya. Ada kurang lebih 2000 ekor ikan bandeng berusia 5 bulan di dalamnya. Ikan-ikan tersebut siap dipanen pada April mendatang.

Eks Buruh Sawit

Mesin pompa air yang ditempatkan dalam salah satu pondok di Pantai Hi’a untuk mengalirkan air laut ke dalam kolam (Foto: Are de Peskim)

“Dari dulu saya ingin pelihara bandeng. Sejak masih SMA,” ungkap Yosep Lagaribu pada Senin (1/2/2021) lalu di kediamannya di RT RT 03/RW 02, Dusun Hi’a, Desa Lewomada.

Yos, demikian Ia disapa tak sempat menyelesaikan pendidikannya di SMK Perikanan di Maumere meski ayahnya, Agustinus Tokek yang hanya seorang nelayan masih ingin membiayainya. Dari tempat praktek di Jepara anak muda ini pulang ke kampung dan menganggur.

Tak betah di kampung Yos lantas berangkat ke Kalimantan Timur. Di sana Ia jadi buruh di perkebunan sawit. Sempat beberapa kali berganti pekerjaan termasuk menjadi kernet bis, pada September 2019, Yos pulang ke Lewomada.

Eks Buruh Sawit ini kembali menganggur di kampung halamannya.

Dirinya pun dilibatkan dalam Program Mari Kreatif Agar Ikan Lestari (MATA KAIL) yang sedang dijalankan oleh konsorsium NGO yakni Bengkel APPek, Yayasan Plan Internasional Indonesia dan Kopernik di Lewomada. Setelah mengikuti pelatihan manajemen bisnis dan kewirausahaan Yos putuskan mewujudkan mimpinya untuk membudidayakan bandeng.

“Bandeng ini potensi besar. Itu yang saya lihat waktu di tempat praktik di Jepara dulu,” tandasnya.

Kata dia, pengetahuan memelihara bandeng tidak Ia peroleh dari keikutsertaannya di program tetsebut. Ia mempelajarinya saat SMA terutama di tempat praktiknya dulu di Jepara.

Lagi pula, Ia mengaku suka makan bandeng sejak kecil. Biasanya mereka menjala bandeng di muara dekat rumahnya.

Dengan dibantu oleh fasilitator MATA KAIL, Ia menyusun rencana usaha budidaya bandeng. Butuh kurang lebih Rp 13.000.000 untuk budidaya awal dengan skala 800 ekor benih.

Dari mana uang sebanyak itu? Tak ada simpanan pun tak ada hibah dana dari program tersebut.

Meski demikian, Yos tetap nekad membudidayakan bandeng. Dia pun belum tahu potensi pemasaran ikan bandeng di Sikka.

Ia lantas menggali kolam secara manual bersama beberapa teman dan keluaraga. Butuh waktu kurang lebih 4 bulan penggalian hingga kolam pun jadi. Jarak kolam dari laut adalah sejauh 45 m. Butuh teknologi untuk mengalirkan air ke kolam.

Melihat tekad sang anak, Agustinus pun tergerak hati mendukung dengan mencarikan akses permodalan.

“Bapa bantu saya modal sehingga bisa beli mesin dan pipa,” ungkapnya.

Sang ayah, Agustinus mengajukan pinjaman di bank dengan agunan sertifikat tanah demi mendukung niat sang anak. Uang tersebut digunakan untuk belanja mesin pia dan kebutuhan lainnya.

Persoalan lain pun datang. Tak ada benih bandeng yang dijual di Maumere. Daerah terdekat untuk mendapatkan benih adalah Makasar. Akan tetapi, harganya mahal belum lagi ditambah biaya pengiriman.

Tak patah semangat, Yos memilih menggunakan benih lokal di muara dekat rumah. Hanya dalam beberapa hari Ia mendapatkan 2000-an benih dengan ukuran 4-5 cm.

“Benih lokal ini daya tahan tubuhnya ternyata kuat sekali. Sampai dengan sekarang baru mati satu. Saya pun belum tahu penyebabnya,” ujarnya.

Tidak hanya itu, penggunaan benih lokal menghemat belanja benih sebesar Rp 4.000.000 lebih.

Dukungan Pemdes Lewomada

Kepala Desa Lewomada, Dominikus Pondeng (Foto: Are de Peskim)

“Waktu awal dia gali dengan dibantu teman, sepupu dan beberapa keponakannya banyak yang ragu. Mereka bilang ini kerja gila,” terang Agustinus Tokek.

Agustinus mengaku bersama istri dan keluarga senantiasa mendukung usaha anaknya membudidayakan bandeng ketimbang membiarkannya pergi ke perantauan.

Namun, masih ada persoalan lain yakni pakan. Untuk mendapatkan pakan, Yos atau ayahnya harus ke Maumere untuk membeli pakan. Dalam sebulan dibutuhkan 1 karung pakan seberat 50 kg dengan harga Rp 425.000. Selain itu, terkadang stok pakan kosong di Maumere. Persoalan pakan ini pula lah yang menyebabkan waktu panen molor.

“Pakan kurang. Harusnya usia sekarang 1 hari butuh 6 kg, tetapi kalau sekarang hanya bisa 3 kg,” tuturnya.

Meski demikian, Yos berencana membuka kolam baru di samping kolam yang ada saat ini. Ia sudah menyiapkan benih yang diambil dari muara. Niat ini didukung Pemdes Lewomada dengan merencanakan hibah dana sebesar Rp 30.000.000.

“Kami sudah rencanakan dan sedang dikonsultasikan agar membantu Yos memenuhi semua kebutuhannya seperti mesin, pipa, pakan dan kebutuhan lainnya,” tegas Kades Lewomada, Dominikus Pondeng.

Selain itu, Pondeng juga mengeluarkan himbauan kepada masyarakat agar tidak merusak muara dan menangkap ikan bandeng untuk diperjualbelikan. Tujuannya untuk mencegah konsumsi berlebihan dan produk saingan bagi usaha budidaya bandeng. Tidak hanya itu, upaya ini dimaksudkan agar memastikan ketersediaan benih.

“Saya sedang dorong anak-anak muda lainnya di desa ini untuk turut membudidayakan bandeng. Semoga Yos bisa memotivasi anak-anak muda lainnya di desa ini sedangkan kami siap bantu pemasarannya” tegasnya.

Di sisi lain, Yos mengaku tidak ingin bergantung pada bantuan dari desa.

“Kalau mereka mau bantu syukurlah. Kalau tidak pun tidak apa. Saya tidak mau terlalu berharap,” tandasnya.

Ia hanya berharap anak-anak muda lain di Lewomada bisa termotivasi untuk membuka usaha budidaya ikan atau usaha lainnya di sektor perikanan sesuai dengan potensi yang ada.

Belum lama ini, saat dikonfimasi terkait kepastian anggaran untuk pengembangan budidaya bandeng, Kades Lewomada, Dominikus Pondeng hanya bisa bersedih. Tak ada cukup anggaran lantaran masih dikonsentrasikan untuk penenganan COVID 19.

“Kami ikut arahan itu jadi untuk bandeng kami tunda dulu,” terang Pondeng.

Akan tetapi, Pondeng mengaku berupaya membantu Yosef dengan mengajukan proposal hibah pendanaan ke Pemprov NTT.

Yosef Lagaribu pun tak berkecil hati dengan kondisi tersebut. Ia sudah mengecek harga bandeng di beberapa pasar di Sikka. Per kg bandeng dibeli dengan harga Rp 40.000 sampai Rp 45.000. Masih ada potensi pasar lain seperti warung makan. Bila harga jual di pasaran tak berubah, Yos yakin bakal meraup untung. Pasalnya, dalam rencana awal Ia hanya akan menjual seharga Rp 19.500.